Sanae Takaichi Terpilih Sebagai Perdana Menteri Wanita Pertama Jepang
📅 Selasa, 21 Okt 2025, 12:22 WIB | Oleh: Lili LestariMereka bisa Satsuki Katayama dari sayap kanan yang bertanggung jawab atas keuangan dan Kimi Onoda yang berdarah campuran Amerika sebagai menteri keamanan ekonomi, kata media lokal.
Jepang berada di peringkat 118 dari 148 negara dalam Laporan Kesenjangan Gender Global 2025 yang dirilis Forum Ekonomi Dunia. Sekitar 15 persen anggota parlemen majelis rendah adalah perempuan, dan dewan direksi perusahaan didominasi laki-laki.
Abenomik
Rincian kesepakatan perdagangan antara Washington dan Tokyo masih belum terselesaikan, dan Trump juga ingin Jepang menghentikan impor energi Russia dan meningkatkan anggaran pertahanan.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Saya ingin dia menjadi Perdana Menteri yang dapat dengan jelas mengatakan 'Tidak' ketika dibutuhkan," kata Satoshi Sakamoto (73), seorang pensiunan Nara lainnya, kepada AFP.
Selain Trump, banyak tantangan yang dihadapi Takaichi termasuk membalikkan penurunan populasi Jepang dan menyuntikkan semangat ke ekonomi yang sedang lesu.
Menjadi minoritas di kedua majelis parlemen, koalisi baru akan membutuhkan dukungan dari partai-partai lain untuk meloloskan undang-undang.
Sebaiknya Anda baca juga:
Takaichi di masa lalu mendukung pelonggaran moneter yang agresif dan perluasan belanja pemerintah, senada dengan mentornya, mantan perdana menteri Shinzo Abe.
Meskipun menarik kembali seruan "Abenomics" dalam kontes kepemimpinan LDP, kemenangannya telah mendorong saham Jepang ke rekor tertinggi.
Sebelumnya ia mengatakan "Jepang benar-benar dipandang rendah oleh Tiongkok", dan Tokyo harus "mengatasi ancaman keamanan" yang ditimbulkan oleh Beijing.
Namun, ia telah melunakkan retorikanya terhadap Tiongkok, dan minggu lalu tidak menghadiri festival di kuil Yasukuni -- sebelumnya ia merupakan pengunjung tetap -- untuk menghormati para pahlawan perang Jepang.
Takaichi juga akan mendapat tekanan untuk memulihkan nasib LDP setelah serangkaian hasil pemilu yang buruk yang membuat Ishiba kehilangan pekerjaannya.
Partai-partai kecil yang mendapat dukungan termasuk partai populis Sanseito, yang menyebut imigrasi sebagai "invasi diam-diam".
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!