Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Kreatif Banget! Pemuda Lumajang Olah Limbah MBG Jadi Produk Ramah Lingkungan

📅 Minggu, 05 Okt 2025, 23:54 WIB | Oleh:

"Kami ingin generasi muda sadar bahwa setiap bahan memiliki potensi. Limbah makanan bisa jadi eco enzyme, pupuk, atau pakan magot. Itu adalah peluang usaha sekaligus kontribusi bagi bumi," katanya.

Asriafi berharap program seperti itu bisa direplikasi di seluruh Lumajang. Dengan sinergi antara pemerintah, komunitas muda, dan penggiat inovasi, maka limbah makanan bisa menjadi sumber daya ekonomi dan edukasi lingkungan.

Menurutnya potensi ekonomi dari eco enzyme cukup menjanjikan. Satu liter eco enzyme bisa dijual dengan harga yang kompetitif, sementara pupuk cair atau pakan magot juga memiliki pasar tersendiri, baik untuk petani maupun pengusaha kecil.

Lebih dari itu, program itu menumbuhkan jiwa wirausaha hijau generasi muda dengan belajar mengelola bisnis sambil peduli lingkungan. Eco enzyme menjadi simbol bagaimana kreativitas bisa mengubah masalah menjadi solusi bernilai.

Asrofi yang juga founder Waroeng Domba 99 dan Rumah Muda Berdaya itu mengajak para pemuda di Lumajang untuk ikut mengolah limbah MBG menjadi peluang usaha yang menjanjikan.

Kompos dan pupuk cair

Ide mengolah limbah MBG juga dipraktikkan seorang petani muda yang juga aktif di komunitas lingkungan, Dzaki Fahruddin, yang mengumpulkan sisa makanan dari dapur umum MBG di SPPG Yosowilangun untuk diolah menjadi eco enzyme yang kemudian dijadikan  kompos dan pupuk cair.

Selain mengurangi sampah, hasilnya juga bermanfaat untuk pertanian. Ia juga kini sedang mengembangkan limbah itu menjadi produk inovasi lain yang bernilai tinggi

Menurutnya, proses pembuatan eco enzyme sederhana, tapi membutuhkan disiplin.

"Limbah makanan dicacah kecil, dicampur gula merah dan air, kemudian difermentasi selama tiga bulan sebelum menjadi eco enzyme yang siap digunakan," katanya menjelaskan.

Pengolahan limbah MBG bukan sekadar inovasi individu, tapi itu adalah gerakan kolektif yang bisa menginspirasi desa lain untuk memanfaatkan limbah, mengurangi sampah, dan menciptakan peluang ekonomi baru.

Dzaki membuktikan bahwa inovasi sederhana bisa berdampak besar karena limbah MBG bukan lagi sampah, tapi modal untuk masa depan yang lebih hijau, kreatif, dan mandiri.

Limbah MBG itu juga bisa diolah menjadi pupuk cair. Awalnya sebagian petani ragu menggunakannya, tapi setelah melihat hasilnya dengan pemakaian pupuk cair itu lahan jadi lebih subur daripada dengan pupuk yang biasa dipakai, maka para petani pun antusias. Apalagi setelah melihat tanaman tumbuh lebih sehat dan bisa menghemat biaya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Naomi Siap Hadapi Elise Mertens

41 menit yang lalu | Opik

Olahraga
Naomi Siap Hadapi Elise Mer...

Gelombang Panas Eropa: Menara Eiffel Ditutup Sementara

1.5 jam yang lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Luar Negeri
Gelombang Panas Eropa: Mena...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.