UMKM Batik Tak Cukup Jago Bikin Motif, Produk Keren Nggak Akan Laku Kalau Promonya Gitu-Gitu Aja, Pemasaran Digital Harus Gaspol!
📅 Kamis, 02 Okt 2025, 17:55 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/Arnidhya Nur Zhafira
JAKARTA – Mengoptimalkan pemasaran berbasis digital buat UMKM kerajinan itu ibarat buka etalase yang nggak lagi terbatas ruang dan waktu.
Produk yang tadinya cuma dikenal di pasar lokal bisa langsung dilihat calon pembeli dari luar kota bahkan luar negeri lewat marketplace atau media sosial. Keuntungannya jelas, biaya promosi lebih efisien, jangkauan lebih luas, dan brand lebih gampang dibangun.
Tapi di sisi lain, tantangannya juga nyata—mulai dari literasi digital pelaku UMKM, persaingan harga dengan produk massal, sampai kebutuhan foto produk dan storytelling yang menarik.
Kalau UMKM kerajinan bisa benar-benar memaksimalkan platform digital dengan strategi yang pas, mereka nggak cuma bertahan, tapi juga bisa naik kelas dan punya daya saing global.
Kementerian Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) menekankan penting bagi perajin dan pengusaha batik untuk lebih mengoptimalkan pemasaran berbasis digital agar akses pasar semakin luas dan usahanya cepat naik kelas.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Tentu kita (dorong) terus untuk program digitalisasi ini. Kita juga bekerja sama dengan semua stakeholder, platform-platform (digital) juga, termasuk mungkin menyangkut soal AI (akal imitasi) juga terus kita dorong,” kata Asisten Deputi Bidang Pemasaran dan Digitalisasi Usaha Mikro Kementerian UMKM Ari Anindya Hartika di Jakarta, Kamis.
Lebih lanjut, Ari mengatakan khusus untuk pembinaan AI kepada UMKM termasuk di ekosistem usaha kerajinan batik, semakin dibutuhkan agar usaha dan pemasarannya dapat relevan sesuai tren dan kebutuhan masyarakat.
“Kemarin di SMESCO juga sudah ada kerja sama dengan salah satu (platform/perusahaan) yang mengembangkan AI untuk para UMKM ini untuk memudahkan mereka,” kata Ari.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Ini kita dorong sampai mereka bisa menguasai (teknologi), karena mau tidak mau, suka tidak suka, kita pasti akan berjalan dengan itu,” ujarnya menambahkan.
Di sisi lain, Walikota Pekalongan Afzan Arslan Djunaid menilai bahwa akses pasar yang luas semakin membawa batik sebagai identitas budaya dan kreativitas Indonesia yang mendunia.
Ia menyebutkan, Batik Pekalongan sudah menjangkau pasar ekspor termasuk Malaysia, Thailand, Vietnam, Timur Tengah, hingga Afrika.
Pasar yang beragam pun membuat para pegiat batik untuk menyesuaikan kreativitas mereka dengan kebutuhan di masing-masing negara yang mereka tuju.
“Pasar Timur Tengah, biasanya batiknya (berupa produk) sarung. Sementara untuk (pasar) Afrika, mereka lebih memilih (batik) dengan warna-warna cerah,” ujar Afzan.
Sementara, Walikota Malang Wahyu Hidayat mengatakan penggunaan teknologi digital dan keterlibatan anak muda di ekosistem usaha batik berdampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi dan ekonomi kreatif Kota Malang, Jawa Timur.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!