Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Nonmigas Dongkrak Pertumbuhan Ekspor Jakarta

📅 Kamis, 02 Okt 2025, 01:05 WIB | Oleh:
Nonmigas Dongkrak Pertumbuhan Ekspor Jakarta Doc: ANTARA/Lia Wanadriani Santosa
Ket. Kepala Badan Pusat Statistik DKI Jakarta Nurul Hasanudin menyampaikan Rilis Berita Statistik DKI Jakarta di Jakarta Pusat, Rabu (1/10).

JAKARTA – Sektor nonmigas menjadi kunci yang mendorong pertumbuhan ekspor Jakarta. Nilai ekspor nonmigas selama bulan Agustus mencapai 1,47 miliar dollar AS. Terjadi peningkatkan 13,74 persen dari bulan sama tahun lalu. “Dominan ekspor Jakarta adalah nonmigas,” ujar Kepala BPS Jakarta, Nurul Hasanudin, Rabu.

Menurutnya, berdasarkan sektor, industri pengolahan mendominasi ekspor Jakarta dengan kenaikan 14,69 persen pada Agustus dibandingkan Agustus tahun lalu. Yang paling dominan sektor nonmigas berasal dari industri pengolahan yang juga naik 14,69 persen. Nurul merinci, nilai ekspor sektor industri pengolahan Agustus tahun lalu tercatat 1,24 miliar dollar AS. Sedangkan Agustus tahun ini tumbuh menjadi 1,43 miliar dollar AS.

Berdasarkan negara tujuan ekspor Agustus ini, Amerika Serikat merupakan negara tujuan utama dengan nilai mencapai 214 juta dollar AS. Selanjutnya, Tiongkok sebesar 165 juta dollar AS dan Singapura sebesar 119 juta dollar AS. Sedangkan berdasarkan kelompok komoditas, selama Agustus ini, ekspor dari sepuluh kelompok komoditas utama memberikan kontribusi sebesar 77,11 persen terhadap total nilai ekspor Jakarta.

Dari sisi pertumbuhan, ekspor sepuluh komoditas utama tersebut tumbuh 121 juta dollar AS atau 11,99 persen dibandingkan dengan bulan yang sama tahun lalu. Pertumbuhan secara tahunan bulan Agustus didorong peningkatan nilai ekspor logam mulia dan perhiasan/permata sebesar 58 juta dollar AS. Kemudian, diikuti alas kaki sebesar 32 juta dollar AS.

Inflasi

Selain itu, Nurul juga menyampaikan kondisi inflasi Jakarta secara tahunan September 2025 dibandingkan September tahun lalu sebesar 2,40 persen. Jadi, ini memperlihatkan lebih terkendali dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 2,65 persen. “Inflasi tahunan berada di level 2,40 persen,” jelas Nurul.

Kondisi ini masih relatif lebih terkendali karena target 2,5 plus minus 1. Tentunya ini berada di posisi yang baik. Jakarta juga berada masih lebih terkendali dibandingkan inflasi nasional 2,65 persen. Lebih jauh Nurul merinci dari 11 kelompok pengeluaran, yang memberikan andil inflasi tertinggi, adalah makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,85 persen. Selanjutnya, diikuti perumahan, air, listrik, dan bahan bakar sebesar 0,71 persen. Ada juga perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,59 persen.

Selain itu, terdapat dua kelompok yang mengalami deflasi: transportasi dan informasi, komunikasi, dan jasa keuangan. Andil untuk transportasi adalah 0,17 persen. Untuk kelompok informasi, komunikasi serta jasa keuangan andilnya 0,02 persen. Komoditas penyumbang utama inflasi tahunan adalah tarif air minum PAM (0,63 persen), emas perhiasan (0,46 persen), daging ayam ras (0,20 persen), beras (0,10 persen), dan bawang merah (0,10 persen).

Di sisi lain, komoditas utama penyumbang deflasi adalah tarif angkutan udara (0,12 persen), bensin (0,08 persen), tarif kereta api (0,02 persen), telepon seluler (0,02 persen), dan sabun cair atau cuci piring (0,02 persen). Secara bulanan, inflasi yang dialami Jakarta sselama September sebesar 0,13 persen dibandingkan Agustus. Penyumbang utama inflasi adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,06 persen. Komoditas utama penyumbang inflasi pada kelompok makanan tersebut adalah daging ayam ras, cabai merah, dan beras.

Menurut Nurul, dari 11 kelompok pengeluaran, inflasi banyak disebabkan komoditas. Kelompok pertama adalah makanan, minuman, dan tembakau yang memberikan andil 0,06 persen. “Kelompok makanan, minuman dan tembakau setiap bulan September mengalami inflasi dalam empat tahun terakhir,” jelas Nurul.

“Makanan minuman sangat berkaitan dengan pola musiman. Itu yang juga memberikan pengaruh terhadap demand dan suplai komoditas-komoditas yang membentuk kelompok makanan dan minuman,” ujar Nurul Hasanudin.

Beberapa komoditas yang menjadi pendorong utama inflasi kelompok tersebut adalah daging ayam ras dengan tingkat inflasi 10,62 persen, cabai merah 8,24 persen, beras 0,05 persen, dan minyak goreng 0,01 persen. Selain kelompok makanan dan minuman, kelompok perawatan pribadi dan jasa juga menyumbang inflasi September 2025 sebesar 0,05 persen, serta transportasi sebesar 0,01 persen.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Olahraga
Piala Dunia, Tim-tim Favori...
PT KAI: Commuter Line lintas Tanjung Priok Mulai Berhenti di Stasiun JIS

PT KAI: Commuter Line lintas Tanjung Priok Mulai Berhenti di Stasiun JIS

23 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.