Sambangi 13 Kota, Festival Jajanan Bango Akan Gunakan Food Truck
📅 Jumat, 26 Sep 2025, 11:33 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: Bango
JAKARTA – Riset Populix tahun 20203 mengungkap pola konsumsi kuliner anak muda bagik Gen Z dan Milenial mengalami pergeseran. Mayoritas Gen Z dan Milenial dari hasil survei diketahui lebih suka membeli makanan dari luar ketimbang memasak di rumah, baik secara daring, dibungkus (takeaway), ataupun dimakan di tempat (dine-in).
Sebesar 57 persen responden membeli makanan secara daring. Lainnya, 57 persen membeli makanan secara dibungkus, dan 46 persen dimakan di tempat. Namun begitu, masih ada 49 persen responden yang memasak makanan sendiri, dan 41 persen menyantap hidangan yang tersedia di rumah.
Bagi responden yang suka jajan kuliner, 85 persen menimbang harganya, 78 persen memilih berdasarkan menu, dan 58 persen memperhatikan kualitas layanan. Adapun pemilihan tempat jajannya berdasarkan promo diskon (65 persen), berjarak dekat (61 persen), berdasarkan ranking tertinggi sebagai yang terenak atau terpopuler (57 persen), kemudian tempat termurah (52 persen), dan yang terlaris (47 persen).
Di tengah pergeseran minat generasi muda tersebut, Bango hadir dengan wajah dan misi baru untuk menjadikan kecap sebagai culinary gem yang selalu relevan dan adaptif dengan perkembangan tren kuliner di Indonesia. Misi baru Bango salah satunya diwujudkan melalui persembahan ”Foodtruck Jajanan Bango” yang akan berkeliling ke 13 kota untuk mengajak generasi muda mengeksplorasi ragam kuliner kekinian berbasis kecap.
Lendi Yuwarlian, Head of Marketing Bango and Beverages Unilever Indonesia menerangkan, sebagai market leader di industri kecap yang telah menemani eksplorasi kuliner masyarakat Indonesia selama hampir 100 tahun. Saat ini pihaknya mengamati adanya fenomena yang menarik, yaitu pergeseran minat terhadap dunia kuliner karena berbagai alasan.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Misalnya, perubahan gaya hidup yang semakin serba cepat membuat generasi muda lebih memilih resep masakan yang dapat diolah secara lebih praktis. Mereka juga dikenal sangat suka mengeksplorasi rasa, sehingga variasi resep masakan menjadi kian penting agar tidak bosan dengan masakan yang itu-itu saja,” paparnya dalam acara “Jadikan Kecap Sebagai Culinary Gem” di Jakarta pada hari Rabu (24/9).
”Selain itu, seiring arus digitalisasi, kiblat kuliner enak ala generasi muda juga ikut berubah. Jika dulu mereka sangat dipengaruhi oleh para penjaja kuliner legendaris dalam mengeksplorasi masakan, kini mereka lebih mencari inspirasi dari para foodsfluencers yang aktif di media sosial. Fenomena ini akhirnya mempengaruhi minat mereka terhadap kuliner lokal. Selain adanya anggapan bahwa kuliner lokal membutuhkan proses masak yang sulit dan lama, variasinya juga dipandang cenderung monoton dibandingkan begitu banyak hidangan yang bermunculan dan menjadi viral,” lanjut Lendi.
Contohnya kuliner berbasis kecap yang kini eksistensinya mulai memudar. Menurut laporan “Menu Check Study” oleh Kantar tahun 2024, untuk pertama kalinya dalam 10 tahun terakhir, hanya tersisa tiga makanan berbasis kecap di dalam daftar 15 masakan terfavorit masyarakat Indonesia, yaitu Nasi Goreng, Oseng Tempe dan Mie Goreng. Hal ini memperlihatkan masih terbatasnya inspirasi untuk mengolah hidangan kecap yang praktis dan lebih bervariasi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dimas Ramadhan Pangestu atau Dims the Meatguy sebagai foodsfluencer dan foodpreneur berkomentar, sebenarnya inspirasi untuk memasak menggunakan kecap bisa dibilang tak terbatas. Dilihat dari profil rasanya, kecap punya rasa yang sangat kompleks dan lengkap. Ada rasa manis, asin dan gurih, yang makin diperkaya oleh aroma khas dari proses fermentasi kedelai sehingga kecap sangat versatile digunakan buat melezatkan masakan apapun.
“Bukan cuma kuliner lokal yang ribuan ragamnya, tapi juga kuliner internasional atau fusion sekalipun. Misalnya dengan penggunaan yang tepat, kecap bisa menggantikan saus Worcestershire, saus tiram atau barbecue,” terangnya.
Tanggap terhadap fenomena yang terjadi, Bango ingin membangkitkan excitement masyarakat terhadap hidangan berbasis kecap dengan memperkenalkan kemasan baru yang mencerminkan semangat Bango untuk selalu bergerak progresif. Dengan desain yang lebih modern dan eye-catching, kemasan ini menegaskan keunikan Bango yang “100% Kecap” dan terasa di setiap tetesannya.
Sejak pertama kali dibuat tahun 1928, Bango selalu konsisten menggunakan bahan alami berkualitas tinggi, tanpa menggunakan bahan pewarna ataupun pengawet. Dengan hanya menggunakan bahan alami ini, kualitas kecap Bango menjadi istimewa karena lebih kental, gurih, dan kaya rasa – menjadikannya sebagai pilihan terbaik untuk mengeksplorasi semua jenis masakan.
Lendi menambahkan, jika sebelumnya dikenal sebagai brand legendaris dengan misi melestarikan warisan kuliner Indonesia, Bango kini juga membawa misi baru: menjadikan kecap sebagai culinary gem yang selalu relevan dan adaptif dengan perkembangan tren kuliner. Bango ingin membuktikan bahwa kecap adalah bumbu yang sangat inovatif dan versatile digunakan untuk hidangan yang lebih beragam dan kekinian baik itu sebagai bahan memasak, saus dipping, berbagai menu fusion, hingga dessert.
“Dengan misi baru ini, kami juga menjangkau generasi muda dengan berkolaborasi bersama sederetan foodsfluencers untuk menghadirkan inspirasi resep sehari- hari yang lezat dan mudah dicoba,” ujarnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!