Kim Jong Un Sindir AS: Siap Negosiasi Lagi Kalau Hentikan Obsesi Denuklirisasi

Senin, 22 Sep 2025, 19:15 WIB

JAKARTA — Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un membuka peluang untuk melanjutkan negosiasi yang sudah lama terhenti dengan Amerika Serikat. Syaratnya, Washington harus berhenti dengan apa yang ia sebut sebagai “obsesi” menghapus senjata nuklir Pyongyang.

Pernyataan ini disampaikan Kim dalam rapat Majelis Rakyat Tertinggi Korea Utara. Menurutnya, tak ada alasan bagi Korut untuk menolak duduk bersama AS jika pendekatannya didasarkan pada pengakuan realitas dan koeksistensi damai.

Ket. Foto: Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un berbicara selama sesi parlemen di Majelis Rakyat Tertinggi, yang diadakan pada 20-21 September 2025 di Pyongyang, Korea Utara. — Sumber: NPR

“Jika AS melepaskan obsesinya yang sia-sia terhadap denuklirisasi dan ingin mengejar koeksistensi damai dengan Korea Utara berdasarkan pengakuan realitas, tidak ada alasan bagi kami untuk tidak duduk bersama AS,” ujar Kim.

Kim bahkan menyebut dirinya masih memiliki kenangan baik dengan mantan Presiden AS Donald Trump. Ia menegaskan pertemuan-pertemuan di masa lalu tetap meninggalkan kesan personal yang positif.

Kim dan Trump sempat bertemu di Singapura, Vietnam, dan perbatasan antar-Korea pada 2018 hingga 2019. Namun, diplomasi tersebut gagal melahirkan kesepakatan konkret terkait pencabutan sanksi dengan imbalan langkah denuklirisasi Pyongyang.

Menurut Kim, Korea Utara membangun program nuklir bukan untuk agresi, melainkan sebagai jaminan kelangsungan hidup negara. Ia menambahkan status nuklir kini sudah dikunci secara permanen dalam konstitusi negaranya.

“Dunia sudah tahu betul apa yang dilakukan Amerika Serikat setelah memaksa negara lain untuk menyerahkan senjata nuklir mereka dan melucuti senjatanya,” ucap Kim. Ia menyinggung Irak dan Libya sebagai contoh negara yang kehilangan kedaulatannya setelah dilucuti.

Sementara itu, Donald Trump sempat menyatakan keinginannya untuk bertemu Kim Jong Un tahun ini kepada Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung. Trump juga berulang kali menyebut Korea Utara sebagai “kekuatan nuklir,” sebuah pengakuan yang ditolak oleh pemerintahan AS sebelumnya.

Posisi Kim kini dinilai jauh lebih kuat dibanding pertemuan terakhir dengan Trump. Selain arsenal nuklir yang semakin besar, Korea Utara juga mendapat dukungan lebih kuat dari Rusia dan China.

Hal ini semakin ditegaskan lewat parade militer di Beijing bulan lalu. Kim tampil bersama Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden China Xi Jinping, memperlihatkan poros baru dukungan politik.

Meski membuka pintu dialog dengan AS, Kim justru menutup peluang penyatuan dengan Korea Selatan. “Kita tidak akan pernah bersatu dengan negara yang mempercayakan politik dan pertahanannya kepada kekuatan asing,” ujarnya.

Ia menyebut gagasan reunifikasi antar-Korea sudah tidak relevan lagi. Tahun lalu, Pyongyang bahkan resmi mengabaikan tujuan lama untuk bersatu kembali dengan Seoul dan menghentikan semua jalur komunikasi.

Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung tetap mencoba merangkul Korea Utara sejak menjabat pada Juni lalu. Ia menghentikan siaran propaganda dan menawarkan kerja sama, tetapi upayanya berulang kali ditolak Pyongyang.

Lee juga mengajukan peta jalan denuklirisasi dalam tiga tahap, mulai dari pembekuan, pengurangan, hingga pembongkaran senjata nuklir. Ia menegaskan tetap akan melanjutkan upaya perdamaian meski Korea Utara bersikap dingin.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

Berita Terbaru

Apakah Rambut Botak Bisa Tumbuh Lagi? Kenali Tandanya

Sukhoi TNI AU Tergelincir di Lanud Hasanuddin Hingga Area Rumput Dekat Jalan Makassar-Maros

LRT Jakarta Pasang Tarif Promo Rp5.000! Rute Velodrome-Manggarai Siap Diresmikan

Cetak Sejarah di Paris! AG.AL Juara Club Champion EWC 2026, Kantongi Hadiah Rp110 Miliar

Paket Pernikahan Elegan di Pusat Jakarta! Mangkuluhur ARTOTEL Suites Buka Harga Mulai Rp25 Juta

Agrowisata Petik Anggur Kini Jadi Tren Wisata Baru di Kepulauan Riau

Mendagri: Korban Gempa NTT Bisa Cetak Ulang Dokumen KTP, KK, hingga BPKB Secara Gratis

BMKG: 6.409 Gempa Bumi Susulan Guncang Flores

DPR Dorong Pemerintah Buka Potensi Wajib Pajak Baru

KPK Tekankan Pentingnya Penguatan Integritas Kampus usai OTT di Unsoed

Kemenbud Fokus Pulihkan Warisan Budaya dari Desa Adat Sade Pasca Kebakaran 

Ada Apa dengan Rekening Dana Aliansi Masyarakat Pati Bersatu? Polda Metro Jaya Jelaskan

Heboh Rekening Aktivis Pati Diduga Diblokir, DPR Buka Suara dan Hubungi Bank

Parkir Rp60.000 per Jam Bikin Geger, Ini Respons Pramono

Udara Jakarta Terancam Polusi, Pramono Minta Masyarakat Hentikan Kebiasaan Bakar Sampah

Karhutla Makin Serius! Kemenhub Terbitkan 35 Izin Pesawat Asing Bantu Atasi Kebakaran

Bukan Sekadar Diskon! Subsidi Motor Listrik Disebut Bisa Pacu Industri Nasional

Gerak Cepat Atasi Karhutla! Operasi Modifikasi Cuaca Berlanjut, BMKG Kini Bergerak ke Berau

Nasib 193 Pedagang Ikan Kramat Jati Terungkap, Bakal Dipindah ke Lokbin

Bukan Sekadar Kebakaran! Presiden Minta Usut Dugaan Koneksi Pembakar Lahan dan Korporasi

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.