Rahasia Brand Sukses: Mainkan Strategi Pemasaran FOMO dan WOM, Biaya Tipis Hasil Fantastis!
📅 Sabtu, 20 Sep 2025, 07:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA FOTO/ Bayu Pratama.
TANGERANG – Penggunaan strategi pemasaran low cost – high impact penting bagi perusahaan untuk mencapai efisiensi tanpa kehilangan daya jangkau.
Dengan memanfaatkan kanal digital, kolaborasi komunitas, serta kreativitas konten, pelaku usaha bisa menekan biaya promosi sekaligus menciptakan eksposur luas dan engagement tinggi.
Pendekatan ini sangat relevan bagi UMKM maupun startup yang memiliki keterbatasan anggaran, namun membutuhkan visibilitas besar untuk memperkuat brand, menarik pelanggan baru, dan menjaga daya saing di pasar yang kompetitif.
Director Asosiasi Marketing Indonesia (IMA) Sophan Supandi mengatakan Fear of Missing Out (FOMO) dan Word of Mouth (WOM) merupakan kombinasi strategi pemasaran low cost – high impact atau kecil biaya tapi berdampak luas.
Ia mengatakan WOM membangun kepercayaan jangka panjang melalui rekomendasi pelanggan, sementara FOMO mendorong keputusan pembelian lebih cepat melalui penawaran eksklusif, terbatas, dan tepat waktu.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Strategi WOM dan FOMO bukan hanya teknik sekali pakai, tapi sebuah siklus yang terus berputar. Kuncinya ada pada ketajaman membaca tren, memahami perubahan perilaku pelanggan, dan mengeksekusi promosi pada waktu yang tepat,” ujar Sophan dalam keterangannya, Jumat (19/9).
Ia juga menjelaskan jika FOMO dinilai mampu menciptakan urgensi pembelian sekaligus meningkatkan penjualan UKM di era digital. Sebab keterbatasan modal dan akses promosi tidak boleh menjadi penghalang bagi UMKM.
"Pelanggan harus menjadi fondasi utama. Pelanggan yang puas akan loyal, menjadi advokat merek, dan menyebarkan rekomendasi secara sukarela, memperluas jangkauan UKM tanpa biaya besar," katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
FOMO adalah perasaan cemas atau takut tertinggal momen, kesempatan, atau tren yang sedang berlangsung.
Dalam konteks pemasaran, FOMO dimanfaatkan untuk mendorong konsumen segera mengambil keputusan, biasanya dengan menekankan aspek keterbatasan waktu, jumlah, atau eksklusivitas.
Sementara itu, WOM adalah strategi pemasaran yang mengandalkan rekomendasi, cerita, atau pengalaman konsumen yang dibagikan kepada orang lain, baik secara langsung maupun melalui media sosial.
Intinya, WOM bekerja karena orang lebih percaya pendapat teman, keluarga, atau komunitas dibanding iklan langsung dari perusahaan.
Dedy Budiman Champion Sales Trainer sekaligus Founder Asosiasi Komunitas Profesi Sales Indonesia mengingatkan UMKM untuk tidak mudah mengeluh dan harus menguasai strategi penjualan online maupun offline agar tetap survive.
Pasalnya kemampuan mengelola penjualan di dua kanal tersebut akan menjadi kunci pertumbuhan UMKM dalam ekosistem ritel modern.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!