Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Balita di Bengkulu Keluarkan Cacing dari Mulut dan Hidung, Rumitnya Masalah Gizi Anak Indonesia yang Selama Ini Terabaikan

📅 Kamis, 18 Sep 2025, 09:45 WIB | Oleh:
Balita di Bengkulu Keluarkan Cacing dari Mulut dan Hidung, Rumitnya Masalah Gizi Anak Indonesia yang Selama Ini Terabaikan Doc: Istimewa
Ket. Ilustrasi anak dengan tangan kotor

JAKARTA - Indonesia kembali diguncang kasus medis yang membuat publik bergidik. Seorang balita bernama Khaira Nur Sabrina yang berumur 1 tahun 8 bulan asal Bengkulu mendadak viral setelah tubuh mungilnya mengeluarkan cacing gelang (Ascaris lumbricoides) dari mulut dan hidung. Kondisi Khaira kian memilukan karena ia juga menderita gizi buruk, anemia, hingga larva cacing yang bersarang di paru-paru.Kasus ini bukan yang pertama. Sebelumnya, seorang balita bernama Raya di Sukabumi harus meregang nyawa karena sepsis parah yang juga disertai keluarnya cacing dari tubuhnya. Rangkaian peristiwa ini membuka mata publik, kecacingan bukan sekadar penyakit sepele, tapi masalah gizi dan kesehatan masyarakat yang jauh lebih kompleks.Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, menegaskan pentingnya peran kebersihan dan gizi dalam mencegah kasus semacam ini. Menurutnya, edukasi kesehatan harus digencarkan, karena infeksi cacing bisa merampas nutrisi anak, memicu anemia, hingga menghambat tumbuh kembang yang berujung pada stunting.Faktanya, data WHO pada 2023 mencatat lebih dari 267 juta anak prasekolah di dunia berisiko mengalami infeksi cacing, mayoritas di negara berkembang termasuk Indonesia. Dampaknya bukan hanya fisi, kecacingan juga bisa menurunkan konsentrasi belajar karena tubuh kekurangan vitamin A, zat besi, dan protein.Penelitian dalam Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia (2019) bahkan mengungkap anak dengan kecacingan memiliki risiko lebih tinggi mengalami underweight dan anemia. Cacing di usus menyedot nutrisi yang seharusnya digunakan untuk pertumbuhan. Akibatnya, daya tahan tubuh melemah, anak lebih rentan terserang penyakit infeksi lain, hingga terjebak dalam lingkaran gizi buruk.Ahli kesehatan masyarakat, Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, menilai kasus Bengkulu mencerminkan tiga hal penting, kecacingan masih jadi penyakit tropis yang terabaikan, masalah ini erat kaitannya dengan gizi buruk anak, dan kapasitas layanan kesehatan perlu ditingkatkan agar mampu menangani kasus berat.Pemerintah sebenarnya sudah menjalankan program pemberian obat cacing massal dua kali setahun. Namun, program ini sering kali terbentur masalah distribusi di daerah pedesaan. Tenaga kesehatan pun dituntut aktif memberi edukasi kebersihan dan gizi pada orang tua dan anak, mulai dari kebiasaan cuci tangan pakai sabun, memakai alas kaki, hingga menjaga kebersihan makanan.Orang tua juga memegang peranan vital. Gizi seimbang dengan protein hewani, sayur, buah, serta asupan zat besi harus diprioritaskan. WHO dan Kemenkes RI bahkan menganjurkan anak usia 1–12 tahun rutin diberi obat cacing setiap enam bulan.Kasus balita di Bengkulu yang mengeluarkan cacing dari mulut ini adalah alarm keras bagi bangsa. Jika masalah gizi dan kebersihan tidak ditangani serius, kecacingan akan terus menghantui generasi muda dan mengancam masa depan mereka.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Olahraga
Iran Membidik Langkah Berse...
Daerah
Kasus yang Melingkungi Proy...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

03 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.