Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Impor BBM Satu Pintu Dinilai Berisiko Hambat Investasi

📅 Selasa, 16 Sep 2025, 13:00 WIB | Oleh:
Impor BBM Satu Pintu Dinilai Berisiko Hambat Investasi Doc: Dok. Pexels

Melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), pemerintah berencana menerapkan kebijakan impor bahan bakar minyak (BBM) untuk kebutuhan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) asing melalui mekanisme satu pintu. Dalam skema ini, impor hanya dapat dilakukan lewat PT Pertamina (Persero). Langkah tersebut dinilai sebagai upaya pemerintah untuk menarik kembali tata kelola migas di sektor hilir dari sistem liberal menuju kebijakan yang lebih terkendali.

Pengamat ekonomi energi Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, menilai kebijakan ini berpotensi mengurangi minat investasi SPBU asing. Menurutnya, pada awal masuk ke Indonesia, perusahaan asing bersedia berinvestasi karena iklim usaha bersifat liberal. Mereka diberi keleluasaan mendirikan SPBU di berbagai wilayah, mengatur pengadaan BBM sesuai kuota, serta menentukan harga jual berdasarkan mekanisme pasar.

“Dengan pengadaan impor BBM Satu Pintu, SPBU Asing tidak lagi bebas dalam pengadaan impor BBM. Padahal, salah satu sumber margin SPBU Asing adalah pengadaan impor BBM yang punya kebebasan dalam menentukan negara impor dengan harga yang paling murah dan melakukan efisiensi biaya pengadaan impor BBM,” ujarnya di Kampus UGM, Selasa (16/9).

Ia menambahkan, dengan mekanisme baru, SPBU asing tidak dapat lagi memperoleh BBM dari sumber dengan harga terendah. Mereka harus membeli dari Pertamina dengan harga yang ditentukan perusahaan pelat merah itu. Kondisi tersebut, kata Fahmy, akan mempersempit margin keuntungan SPBU asing, bahkan berisiko menimbulkan kerugian. “Dengan kerugian yang berkelanjutan, tidak menutup kemungkinan SPBU Asing akan tumbang hingga menutup SPBU,” tegasnya.

Lebih jauh, Fahmy memperkirakan hengkangnya SPBU asing dari Indonesia akan membuat tata kelola migas hilir sepenuhnya dimonopoli Pertamina. Dampaknya tidak hanya pada berkurangnya persaingan di sektor migas, tetapi juga pada iklim investasi secara umum. “Memburuknya iklim investasi sudah pasti akan berdampak terhadap pencapaian pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan Presiden Prabowo sebesar 8 persen per tahun. Pemerintah sebaiknya membatalkan rencana kebijakan Impor BBM Satu Pintu, yang akan menjadi kebijakan blunder,” jelasnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Advertisement
Nusron Wahid Dua Kali Mangkir, KPK Siapkan Panggilan Ketiga

Nusron Wahid Dua Kali Mangkir, KPK Siapkan Panggilan Ketiga

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.