Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Survei HSBC: Investor Kaya RI Kompak Pilih Emas, Tinggalkan Aset Berisiko

📅 Senin, 15 Sep 2025, 21:55 WIB | Oleh: Tim Penulis
Survei HSBC: Investor Kaya RI Kompak Pilih Emas, Tinggalkan Aset Berisiko Doc: Antara
Ket. Arsip foto - Emas batangan.

JAKARTA – Emas masih menjadi pilihan investasi utama, terutama di kalangan borju alias kelas atas di tengah ketidakpastian global.

Karakteristiknya sebagai aset lindung nilai membuat logam mulia ini relatif stabil dibanding instrumen berisiko, terutama saat pasar keuangan tertekan oleh gejolak geopolitik maupun perubahan kebijakan moneter.

Selain itu, tren permintaan yang konsisten, baik dari bank sentral maupun investor ritel, memperkuat posisinya sebagai instrumen diversifikasi portofolio jangka panjang.

HSBC melalui survei Affluent Investor Snapshot 2025 mencatat investor segmen kelas atas (affluent) Indonesia menempati posisi teratas dalam kepemilikan emas di antara 11 negara lainnya dengan rata-rata alokasi sekitar 25 persen dari portofolio mereka.

Alokasi emas tersebut melonjak sebesar 12 poin persentase dari tahun sebelumnya. Sementara kepemilikan uang tunai pada investor affluent Indonesia menurun 6 poin persentase menjadi 19 persen dari portofolio.

Head of Networks Sales and Distribution HSBC Indonesia Sumirat Gandapraja dalam media briefing di Jakarta, Senin (15/9), menjelaskan bahwa negara-negara lain yang disurvei HSBC juga mencatatkan penurunan kepemilikan uang tunai.

Namun, investor affluent di negara lain tidak hanya cenderung meningkatkan alokasi investasi ke emas melainkan juga aset-aset lainnya seperti saham.

Meski begitu, portofolio investor affluent Indonesia tetap terdiversifikasi di berbagai aset seperti properti (10 persen dari portofolio), obligasi (10 persen dari portofolio), dan saham (5 persen dari portofolio).

“Investor Indonesia ini tipe yang sekalinya tidak cash, langsung ke emas daripada obligasi atau saham. Bahkan porsi saham berkurang (turun 5 poin persentase dibanding 2024),” kata Sumirat.

Menurut dia, hal ini turut dipengaruhi oleh faktor literasi. Sumirat mengingatkan bahwa volatilitas pasar biasanya tidak berlangsung lama, sehingga investor yang terlalu takut berinvestasi di saham, terutama saham teknologi, justru berisiko kehilangan momentum di tengah pertumbuhan positif pasar Amerika dan China.

Adapun tiga produk keuangan teratas yang saat ini dimiliki oleh investor affluent Indonesia secara umum antara lain emas fisik (44 persen), deposito berjangka (33 persen), dan investasi terkelola (31 persen).

Survei HSBC yang sama juga mencatat bahwa ke depan terdapat minat yang kuat pada asuransi terkait investasi pada produk unit link (47 persen) dan solusi keuangan terkelola (43 persen).

Minat terhadap produk-produk baru dan lebih kompleks seperti emas digital, multi-asset solutions, dan private market funds secara signifikan lebih tinggi di kalangan Gen Z dan milenial, menunjukkan selera risiko dan adopsi inovasi yang lebih besar.

Terkait dengan prospek ekonomi, meski mayoritas responden khawatir soal biaya hidup dan ketidakpastian ekonomi, kalangan affluent Indonesia tetap optimis. Sebanyak 84 persen responden juga puas dengan kualitas hidup mereka, naik 2 poin persentase dari tahun lalu.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Abu Vulkanik Masih Bisa Menembus Masker N95, Kecuali Diberi Tambahan
    Pantesan negara ga maju2, profesor UI lohhhh , ...
  • BTN Dorong Industri Kopi Indonesia Naik Kelas Lewat Kolaborasi dan Digitalisasi
    Langkah luar biasa dari BTN dalam menginisiasi kolaborasi ...
  • OJK Bubarkan 58 Dana Pensiun, Ada Apa dengan Industri Pensiun RI?
    Meskipun terdapat pembubaran puluhan dana pensiun pemberi kerja, ...
  • Kini Deli Serdang Kembangkan Industri Jamur Menggunakan Elektrifikasi, Bisa Ditiru
    Inisiatif pemanfaatan teknologi elektrifikasi melalui mesin pengaduk media ...
  • Perkuat Daya Saing di Tengah Dinamika Pasar Global, VDNI Pacu Pertumbuhan Berkelanjutan di 2026
    Langkah strategis PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) ...

Wilayah Terdampak Erupsi Gunung Anak Krakatau

1.5 jam yang lalu | Fajar Alim M

Daerah
Wilayah Terdampak Erupsi Gu...
Ekonomi
Realisasi Pembiayaan untuk ...
Advertisement
Dokumenter Elon Musk Bikin Heboh, Sisi Kontroversial Sang Miliarder Dibongkar

Dokumenter Elon Musk Bikin Heboh, Sisi Kontroversial Sang Miliarder Dibongkar

09 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.