Budaya Banjar Membuat Payung Kembang Unik Dilestarikan Melalui Lomba
Minggu, 14 Sep 2025, 19:43 WIBBANJAR â Payung Kembang yang menjadi kekayaan khas Banjar, Kalsel, perlu terus dilestarikan. Maka, Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Taman Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Selatan (Disdikbud Kalsel) melombakan payung kembang guna melestarikan tradisi dan budaya khas Banjar.
Kepala UPTD Taman Budaya Kalsel Suharyanti di Banjarmasin, Minggu, mengatakan lomba tersebut juga sebagai rangkaian kegiatan Temu Karya Taman Budaya se-Indonesia Ke-24 periode 2025. "Payung kembang ini tidak ada di provinsi lain, sehingga menjadi seni dan budaya khas Kalsel yang harus terus dilestarikan," ujar Suharyanti.
Perlombaan diikuti 18 perajin payung kembang asal Kota Banjarmasin dengan menghadirkan dewan juri terdiri atas Ketua Umum Yayasan Lestari Anggrek Provinsi Kalsel Siti Wasilah, pengamat budaya Kamarul Hidayat, dan Ketua DPW Perhimpunan Perempuan Lintas Profesi Indonesia (P2LIPI) Kalsel Nawang Wijayati.
Menurut Suharyanti, payung kembang terbaik akan dijadikan dekorasi utama pembukaan Temu Karya Taman Budaya di panggung utama. Pada masa mendatang, ia menyebutkan UPTD Taman Budaya Kalsel akan memperluas peserta lomba dengan melibatkan perajin dari 13 kabupaten/kota se-Provinsi Kalsel.
Sementara itu, salah satu Dewan juri Siti Wasilah menyampaikan penilaian lomba didasarkan pada kreativitas, inovasi, kerapian, dan keindahan. Ia mengapresiasi semangat para perajin yang tetap berkarya meski harga bunga cukup mahal, seperti kenanga, melati, dan mawar.
"Mereka bisa memanfaatkan bunga lain di sekitar lingkungan. Harapannya, lomba ini bisa rutin digelar dengan melibatkan seluruh kabupaten/kota agar memperlihatkan variasi serta ciri khas budaya masing-masing daerah," katanya.
Pada lomba tersebut, perajin asal Kecamatan Pengambangan Kota Banjarmasin Helmawati meraih juara pertama dengan karya payung kembang lima tingkat yang kerap digunakan pada acara khatam Al Quran, posisi kedua direbut Masitah disusul Norjenah sebagai juara ketiga.
âMeskipun persyaratan minimal dua tingkat, saya membuat lima tingkat agar tampil berbeda. Waktu tiga jam yang diberikan panitia alhamdulillah cukup untuk menyelesaikannya,â ujar Helmawati yang sudah lebih dari 20 tahun menekuni kerajinan ini.
Melalui lomba ini tentu masyarakat diharapkan kembali memiliki payung kembang agar tidak punah. Sebab payung kembang sungguh bagus. Ini yang perlu dilestarikan untuk diturunkan kepada generasi seakrang.
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Aloysius Widiyatmaka
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.