Intervensi Pasar Keuangan Belum Jawab Persoalan Ekonomi Nasional
Jumat, 05 Jun 2026, 01:05 WIBJAKARTA - Pelemahan rupiah yang menembus level 18.000 rupiah per dollar Amerika Serikat (AS), dinilai mencerminkan persoalan yang lebih dalam dari sekadar gejolak pasar keuangan.Â
Pengamat Kebijakan Publik Fitra, Badiul Hadi mengatakan intervensi Bank Indonesia belum mampu menjawab akar persoalan ekonomi nasional.
âRapuhnya rupiah menembus 18.000 per dolar AS menunjukkan bahwa intervensi BI belum mampu menjawab akar persoalan yang dihadapi perekonomian nasional,â kata Badiul.
Menurutnya, intervensi valas dan penyesuaian suku bunga memang penting untuk meredam gejolak jangka pendek. Namun, jika tekanan terhadap rupiah berlangsung berkepanjangan, masalahnya sudah bergeser ke melemahnya kepercayaan terhadap fundamental ekonomi dan tata kelola kebijakan.
âSaat ini, cadangan devisa dan instrumen moneter tidak bisa terus-menerus dijadikan tameng mempertahankan nilai tukar. Kalau rupiah terus tertekan meski intervensi diperbesar, publik berhak mempertanyakan efektivitas koordinasi kebijakan fiskal dan moneter,â tegasnya.
Badiul menjelaskan, pasar tidak hanya melihat suku bunga, tetapi juga kredibilitas pengelolaan anggaran, disiplin fiskal, kepastian hukum, arah investasi, hingga risiko pembiayaan program-program pemerintah yang dinilai membebani ruang fiskal.
âIntinya, pelemahan rupiah merupakan dampak dari penilaian menyeluruh pelaku pasar. Ketika tidak meyakinkan, ya tentu rupiah akan terus terpuruk,â katanya.
Ia mendesak Presiden untuk mengevaluasi kinerja Gubernur BI sebagai pengelola kebijakan moneter dan Kementerian Keuangan sebagai pengelola fiskal.
Menurut dia, pemerintah dan BI perlu bergerak melampaui pendekatan jangka pendek.
âPrioritasnya adalah memperkuat kredibilitas fiskal melalui efisiensi belanja negara, menunda program-program berisiko tinggi yang membebani APBN, meningkatkan transparansi pengelolaan aset dan utang publik, serta menciptakan kepastian regulasi bagi investasi produktif,â katanya.
Badiul menegaskan, stabilitas rupiah pada akhirnya tidak ditentukan oleh besarnya intervensi, melainkan oleh kuatnya kepercayaan pasar terhadap kualitas tata kelola ekonomi nasional.
Disiplin Fiskal
Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Esther Sri Astuti, menilai intervensi pasar hanya menjadi solusi jangka pendek untuk menahan pelemahan rupiah.
Menurutnya, yang dibutuhkan saat ini adalah langkah untuk menguatkan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS secara berkelanjutan. âMenurut saya, intervensi pasar itu hanya solusi jangka pendek dan bersifat sementara. Yang harus dilakukan adalah bagaimana menguatkan rupiah terhadap dollar AS secara sustain,â kata Esther.
Ia memaparkan tiga langkah yang perlu ditempuh pemerintah dan otoritas terkait untuk menjaga stabilitas rupiah dalam jangka panjang.
Pertama, disiplin fiskal dengan mengalokasikan anggaran untuk peningkatan investasi dan ekspor, bukan untuk kebijakan populis yang cenderung mendorong konsumsi.
Kedua, menjaga independensi bank sentral agar tidak digunakan untuk menanggung beban fiskal atas program pemerintah melalui skema burden sharing, printing money, dan sejenisnya.
Ketiga, mengembangkan sektor keuangan dengan lebih luas, tidak hanya perbankan tetapi juga lembaga non-perbankan. Hal itu penting agar pembiayaan pembangunan tidak hanya bergantung pada dana jangka pendek dari perbankan.
- Stabilitas Moneter
Redaktur: Vitto Budi
Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.