Media Malaysia Sebut Indonesia Gandakan Pesanan Jet Tempur J-10 Tiongkok Menjadi 24 Unit

Jumat, 05 Jun 2026, 00:00 WIB

KUALA LUMPUR - Media pertahanan yang berbasis di Malaysia, baru-baru ini melaporkan bahwa Indonesia telah memutuskan untuk meningkatkan rencana pembelian pesawat tempur multiguna J-10CE buatan Tiongkok secara signifikan. 

Nama J-10 semakin mencuat dalam pemberitaan setelah bentrokan udara antara India dan Pakistan pada 2025 degan nerbagai laporan dan analisis membahas J-10CE Pakistan dan rudal PL-15, telah menjatuhkan 5 jet tempur India, termasuk sebuah Rafale.

Ket. Foto: Meski belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Indonesia mengenai angka 24 pesawat maupun paket rudal jarak jauh PL-15E, laporan tersebut sejalan dengan upaya Jakarta yang semakin terlihat untuk mempercepat kesiapan tempur sebelum persaingan kekuatan di kawasan meningkat lebih jauh pada akhir dekade 2020-an. — Sumber: Istimewa

DSA mengutip pengungkapan jurnalis penerbangan dan pertahanan ternama Alan Warnes pada 1 Juni, melalui akun media sosial X. Dalam unggahannya,

Warnes menyatakan bahwa ia memperoleh informasi yang dapat dipercaya dari sumber TNI Angkatan Udara yang dapat dipercaya bahwa rencana pembelian J-10CE Indonesia telah meningkat dari 12 menjadi 24 unit.

Jika kelak terkonfirmasi, langkah ini akan mempercepat perubahan besar dalam keseimbangan kekuatan udara di Asia Tenggara, seiring upaya pemerintah yang mulai mengurangi ketergantungan tradisional pada pengadaan alutsista dari Barat.

Laporan tersebut segera menarik perhatian kawasan. Pasalnya, paket pembelian tersebut dilaporkan mencakup rudal jarak jauh di luar jangkauan pandang (Beyond Visual Range/BVR) PL-15E, yang berpotensi menghadirkan dinamika baru dalam pertempuran udara jarak jauh di salah satu kawasan paling strategis dan padat di dunia.

Signifikansi strategis dari akuisisi ini tidak hanya terletak pada jumlah pesawat. J-10CE merupakan pesawat tempur generasi 4,5 paling matang yang ditawarkan Tiongkok untuk pasar ekspor dan saat ini bersaing langsung dengan pesawat tempur Barat maupun Russia di Asia, Afrika, dan Timur Tengah.

Upaya Indonesia memperoleh J-10CE juga menandai perubahan geopolitik yang penting. Selama ini Jakarta cenderung menyeimbangkan pembelian alutsista dari Barat, Russia, dan program modernisasi dalam negeri, tanpa banyak mengintegrasikan platform tempur garis depan asal Tiongkok ke dalam kekuatan militernya.

Integrasi rudal PL-15E membawa konsekuensi regional yang lebih besar. Rudal ini memiliki kemampuan panduan radar aktif jarak jauh dan menjadi salah satu teknologi kedirgantaraan Tiongkok yang paling banyak dipromosikan setelah perdebatan internasional mengenai performanya dalam bentrokan udara India-Pakistan tahun 2025.

Strategi modernisasi Indonesia melalui program "Perisai Trisula Nusantara" semakin mencerminkan doktrin pertahanan yang berfokus pada penangkalan terdistribusi, pertahanan udara berlapis, dan kemampuan proyeksi kekuatan secara cepat di wilayah kepulauan yang membentang dari Selat Malaka hingga Papua.

Modernisasi pesawat tempur Indonesia berlangsung bersamaan dengan meningkatnya aktivitas militer Tiongkok di kawasan Laut Tiongkok Selatan, termasuk di dekat wilayah maritim Natuna, tempat berbagai kepentingan ekonomi dan strategis saling bersinggungan.

Hubungan pertahanan Indonesia-Tiongkok yang berkembang juga diawasi dengan cermat oleh Amerika Serikat, Prancis, Korea Selatan, Turki, dan Russia. Hal ini karena strategi diversifikasi pengadaan Indonesia semakin memengaruhi persaingan pasar pertahanan Indo-Pasifik serta pola aliansi jangka panjang di kawasan.

Saat ini Indonesia mengoperasikan armada yang sangat beragam, termasuk F-16, Su-27, Su-30, serta pesawat tempur Rafale yang telah datang. Jika J-10CE benar-benar bergabung, Indonesia akan memiliki salah satu ekosistem pesawat tempur paling beragam di Asia.

Kerangka pengadaan ini juga mencerminkan kekhawatiran negara-negara Asia Tenggara terhadap kerentanan rantai pasok, risiko sanksi, ketergantungan suku cadang, dan ketidakpastian geopolitik akibat bergantung pada satu pemasok pertahanan saja. Meski belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Indonesia mengenai angka 24 pesawat maupun paket rudal PL-15E, laporan tersebut sejalan dengan upaya Jakarta yang semakin terlihat untuk mempercepat kesiapan tempur sebelum persaingan kekuatan di kawasan meningkat lebih jauh pada akhir dekade 2020-an.

Ketertarikan Indonesia terhadap J-10CE mencerminkan perhitungan strategis bahwa kemampuan industri dirgantara Tiongkok yang berkembang pesat tidak lagi dapat diabaikan dalam keseimbangan militer Asia Tenggara, terlepas dari berbagai sensitivitas geopolitik yang ada.

Laporan awal pada pertengahan 2025 menyebutkan bahwa pemerintah sempat mempertimbangkan pesawat J-10B bekas milik Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok sebagai solusi sementara berbiaya lebih rendah untuk menambah jumlah skuadron dengan cepat.

Namun konsep tersebut berkembang secara signifikan setelah Menteri Pertahanan Indonesia Sjafrie Sjamsoeddin dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengonfirmasi adanya paket pengadaan pesawat tempur yang lebih luas dengan nilai dilaporkan melebihi 9 miliar dolar AS. 

Rencana ini langsung menarik perhatian dunia karena Indonesia akan menjadi negara pengguna ekspor kedua setelah Pakistan, sehingga meningkatkan kredibilitas Tiongkok sebagai pemasok pesawat tempur kelas atas di pasar Indo-Pasifik.

Keterbukaan Indonesia terhadap pengadaan produk dirgantara Tiongkok juga menunjukkan bagaimana pembatasan ekspor, keterbatasan transfer teknologi, dan persoalan pembiayaan dari sistem Barat mulai memengaruhi perhitungan pengadaan pertahanan di kawasan.

J-10CE menempati posisi penting dalam portofolio ekspor pertahanan Tiongkok karena menggabungkan radar AESA (Active Electronically Scanned Array), sistem peperangan elektronik modern, dan integrasi rudal canggih dalam paket yang relatif lebih terjangkau.

Minat Indonesia terhadap pesawat ini juga mencerminkan kebutuhan mendesak untuk menggantikan armada tempur yang menua sekaligus memperluas cakupan penangkalan di wilayah maritim yang sangat luas dan rentan terhadap tekanan militer maupun pelanggaran wilayah.

Para pengamat regional juga memperhatikan apakah angka 24 pesawat yang dilaporkan hanyalah gelombang awal dari target jangka panjang yang sebelumnya diperkirakan mencapai sekitar 42 unit dalam beberapa tahap pengadaan.

Model diversifikasi pengadaan Indonesia juga mengurangi kerentanan terhadap sanksi maupun gangguan ekspor karena penggunaan banyak pemasok akan menyulitkan pihak luar untuk menggunakan ketergantungan logistik sebagai alat tekanan politik.

Karena itu, perluasan rencana pembelian ini bukan sekadar akuisisi pesawat tempur, melainkan mencerminkan transisi Indonesia menuju postur pertahanan yang lebih mandiri secara strategis, dengan tujuan memaksimalkan fleksibilitas operasional di tengah meningkatnya persaingan kekuatan besar di kawasan.

Catatan: Artikel ini berisi laporan dan analisis media pertahanan. Hingga saat ini belum ada pengumuman resmi dari pemerintah Indonesia atau TNI AU yang mengonfirmasi pembelian 24 unit J-10CE maupun rudal PL-15E. Jadi informasi tersebut masih perlu menunggu konfirmasi resmi.

  • Jet Tempur J-10 Vigorous Dragon

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.