Gudang Penuh Beras, Pasar Masih Menanti Kelancaran Distribusi

Jumat, 05 Jun 2026, 00:00 WIB

JAKARTA – Besarnya cadangan beras nasional memang menjadi bantalan penting bagi ketahanan pangan, namun tidak serta-merta mampu menekan inflasi jika distribusi dan rantai pasok masih menghadapi kendala. Ketersediaan stok di gudang hanya akan berdampak pada stabilitas harga apabila pasokan dapat mengalir secara lancar ke pasar dan menjangkau konsumen tepat waktu.

Gangguan logistik, biaya distribusi yang tinggi, maupun praktik spekulasi berpotensi membuat harga tetap naik meski pasokan berlimpah. Karena itu, efektivitas manajemen rantai pasok menjadi faktor penentu agar surplus beras dapat benar-benar berkontribusi terhadap pengendalian inflasi dan menjaga daya beli masyarakat.

Ket. Foto: Pengendalian Inflasi — Sumber: istimewa

Akademisi Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi Universitas Warmadewa, I Nengah Muliarta menilai stok beras nasional yang mencapai 5,23 juta ton merupakan modal penting untuk menjaga stabilitas harga dan ketahanan pangan. “Namun, besarnya cadangan tersebut tidak otomatis mampu menekan inflasi apabila tidak didukung sistem distribusi dan rantai pasok yang efektif,” ujarnya, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, tantangan utama pemerintah bukan sekadar menumpuk stok, melainkan memastikan beras dapat disalurkan secara efisien hingga ke konsumen dengan harga terjangkau. Penguatan logistik, kelancaran distribusi, dan pengawasan terhadap praktik spekulasi menjadi kunci agar surplus beras dapat membantu mengendalikan inflasi pangan, menjaga daya beli masyarakat, sekaligus memberikan harga yang layak bagi petani.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menyatakan pemerintah terus memperkuat pengendalian inflasi melalui program Gerakan Pangan Murah (GPM) yang hingga akhir Mei 2026 telah dilaksanakan 5.037 kali di 417 kabupaten/ kota, jauh lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. “Program ini bertujuan menjaga keterjangkauan harga pangan pokok strategis seperti beras, cabai, bawang, telur, daging, gula, dan minyak goring,” katanya di Jakarta, Kamis (4/6).

Secara umum, inflasi nasional dan inflasi pangan masih terkendali. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan inflasi pangan (volatile food) pada Mei 2026 sebesar 0,22 persen, dipicu kenaikan harga cabai, bawang merah, tomat, beras, dan sawi hijau akibat faktor musiman menjelang Iduladha. Namun, sejumlah komoditas seperti daging ayam ras, telur ayam ras, dan bawang putih masih mengalami deflasi sehingga membantu meredam tekanan inflasi.

Sementara itu, harga beras nasional tetap relatif stabil. Kenaikan harga beras medium dan premium terjadi secara tipis, masih berada dalam batas terkendali dan belum melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET). Bahkan, inflasi beras bulanan menurun dari 0,58 persen pada April menjadi 0,38 persen pada Mei, menunjukkan efektivitas langkah stabilisasi pangan yang dilakukan pemerintah.

  • inflasi

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.