Energi Hijau, AI, dan EV Jadi Mesin Pertumbuhan Permintaan Listrik
Kamis, 11 Sep 2025, 20:34 WIBJAKARTA - Pemerintah bersama PT PLN (Persero) telah meluncurkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025â2034, peta jalan ambisius yang diyakini bakal mengubah lanskap ketenagalistrikan nasional.
Meski digadang sebagai RUPTL paling hijau sepanjang sejarah, implementasinya berhadapan dengan tantangan besar: kebutuhan investasi jumbo hingga Rp3.000 triliun dan kepastian tumbuhnya permintaan listrik baru di berbagai sektor.
âRUPTL kali ini tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan listrik, tetapi juga meng-create demand, terutama di wilayah dengan potensi besar yang selama ini belum terwakili, seperti kawasan Indonesia Timur,â ujar Evy Haryadi, Direktur Teknologi, Engineering, dan Keberlanjutan PLN, dalam ajang Katadata Sustainability Action for The Future Economy (SAFE) 2025 di Jakarta, Rabu (10/9).
Selama 10 tahun ke depan, pemerintah menargetkan tambahan kapasitas 69,5 gigawatt (GW). Dari angka tersebut, 76% atau 52,9 GW direncanakan bersumber dari energi baru terbarukan (EBT) dan teknologi penyimpanan energi. Angka ini hampir menyamai kapasitas pembangkit listrik yang telah dibangun sejak Indonesia merdeka atau sekitar 75 GW. Kendati terkesan ambisius, rencana RUPTL 2025-2034 dipandang memiliki nilai strategis.
Namun, skala ambisi ini menuntut kejelasan arah permintaan. Evy menekankan bahwa pembentukan demand menjadi strategi utama, terutama untuk menopang sektor-sektor yang diproyeksikan melonjak tajam konsumsinya. âMisalnya sektor perikanan di kawasan timur. Dengan menyiapkan cold storage berbasis listrik, otomatis akan memacu pertumbuhan ekonomi sekaligus kebutuhan energi di sana,â jelasnya.
PLN, lanjut Evy, mengidentifikasi setidaknya tiga motor pertumbuhan konsumsi listrik dalam dekade mendatang: pendingin ruangan (AC), ekspansi pusat data berbasis artificial intelligence (AI), dan adopsi kendaraan listrik (EV). Faktor-faktor inilah yang diyakini akan menjaga kesinambungan bisnis sekaligus menopang agenda transisi energi.
Kebutuhan investasi untuk mengembangkan pembangkit listrik EBT sebesar Rp3.000 triliun menuntut kepercayaan investor yang tinggi. PLN berupaya meyakinkan pasar dengan memperbaiki profil risiko. âRisiko kita sudah turun dari 30,7 ke 27,4 atau kategori medium risk. Dengan perbaikan ini, peluang mendapatkan investor akan semakin terbuka,â kata Evy.
Untuk memperlancar eksekusi proyek yang rata-rata memakan waktu 3â5 tahun, PLN memperkuat tiga aspek: pemetaan geospasial, pembentukan working group lintas sektor dengan project management office (PMO), serta keseimbangan antara proyek jangka pendek dan jangka panjang. Strategi ini diharapkan mampu mengantisipasi keterlambatan pembangunan sekaligus menjaga kesinambungan pasokan listrik.
Dengan menitikberatkan pada tantangan pendanaan dan kebutuhan menciptakan demand, RUPTL 2025â2034 tidak sekadar peta jalan energi, melainkan instrumen strategis yang menentukan apakah Indonesia mampu mencapai target ekonomi 8% per tahun serta mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Mohammad Zaki Alatas
Berita Terkait:
-
Biorefinery Cilacap, Menyulap Jelantah menjadi Bioavtur
-
Transisi Energi Tak Boleh Abaikan Tarif dan Stabilitas Listrik
-
Pemkab Sigi Benahi Infrastruktur dan Fasilitas Danau Lindu untuk Festival 2026
-
Istana Gelar Ratas Bahas Pasokan Energi Imbas Perang di Timur Tengah
-
Slot Soroti Performa Stabil Mac Allister Usai Kemenangan Tipis atas Forest
-
Mensos Tegaskan Penyaluran Iuran Jaminan Kesehatan Semakin Tepat Sasaran
-
Bapanas Pastikan Pasokan Pangan Jabodetabek Aman Jelang Imlek dan Ramadan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.