Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Bangun Kembali Kepercayaan Publik dengan Transparansi dan Akuntabilitas

📅 Rabu, 03 Sep 2025, 01:05 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Bangun Kembali Kepercayaan Publik dengan Transparansi dan Akuntabilitas Doc: antara
Ket. Mohammad Faisal Direktur Eksekutif CORE Indonesia - Pemerintah harus memahami bahwa investasi pada kesejahteraan rakyat, bukan pada aparatur koersif, adalah kunci pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

JAKARTA - Perkembangan teknologi informasi telah mendorong informasi cepat sampai ke masyarakat. Hal itu menyebabkan kebijakan ekonomi modern sudah mengakomodasi perilaku rational expectation (harapan rasional) masyarakat yang dipengaruhi oleh informasi yang terbuka dan transparan. Dengan adanya informasi tentang apa yang akan terjadi ke depan sangat memengaruhi perilaku masyarakat saat ini.

Dosen Magister Ekonomi Terapan Unika Atma Jaya YB. Suhartoko mengatakan dalam menjalankan kebijakan akuntabilitas dan transparansi sangat penting karena pelaku ekonomi sangat cepat mendapatkan berita.

Akuntabilitas dan transparansi itu penting untuk menggaransi kredibilitas pemerintah, karena dalam kebijakan ekonomi modern tidak bersifat statis tetapi dinamis.

Apa yang akan dilakukan Pemerintah harus disosialisasikan lebih dahulu, sehingga menjadi pertimbangan tindakan pelaku ekonomi lain dan seterusnya. “Sekali Pemerintah tidak kredibel, maka akan sulit memprediksi perilaku pelaku ekonomi yang lain,” kata Suhartoko.

Sebelumnya tiga lembaga think-tank Indonesia, yaitu Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Institute for Development of Economics & Finance (Indef), dan The Prakarsa menegaskan pentingnya akuntabilitas dan transparansi kebijakan Pemerintah untuk membangun kembali kepercayaan publik dan pasar.

“Bangun kepercayaan publik melalui transparansi kebijakan fiskal dan akuntabilitas penggunaan anggaran,” kata Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal di Jakarta, Selasa (2/9).

Lebih lanjut, Faisal mengatakan ketiga lembaga juga mendorong Pemerintah bersama dengan DPR RI untuk mengevaluasi menyeluruh Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026 dengan melibatkan partisipasi publik.

Hal itu penting untuk memastikan alokasi anggaran mendatang berpihak kepada kesejahteraan rakyat.

Rebalancing prioritas belanja negara, lanjut Faisal, dapat dilakukan pemerintah melalui beberapa cara seperti realokasi anggaran belanja tidak produktif (termasuk penambahan insentif bagi pejabat pemerintah, anggota DPR dan belanja militer) menuju penguatan sektor riil dan penciptaan lapangan kerja.

Lebih lanjut, CORE Indonesia, Indef, dan The Prakarsa juga meminta pemerintah untuk evaluasi kenaikan anggaran pertahanan 35 persen yakni sebesar 335,2 triliun rupiah agar diprioritaskan pada pendidikan, kesehatan, dan riset.

“Adapun pemenuhan amanat konstitusi 20 persen anggaran pendidikan perlu disertai prioritas pada peningkatan kualitas pendidikan dan perbaikan kesejahteraan guru,” katanya.

Lapangan Kerja

Efisiensi anggaran, kata Faisal, diarahkan untuk stimulasi konsumsi dalam negeri dan penciptaan lapangan kerja berkualitas, bukan sekadar penghematan.

“Kami menekankan bahwa stabilitas sosial-ekonomi hanya dapat tercapai melalui kebijakan fiskal yang responsif dan berkeadilan. Pemerintah harus memahami bahwa investasi pada kesejahteraan rakyat, bukan pada aparatur koersif, adalah kunci pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” kata Faisal.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Menekraf: Musik Indonesia Kian Mendunia

2 jam lalu | Ilham Sudrajat

Nasional
Menekraf: Musik Indonesia K...
Nasional
Kemenpar Ajak Berwisata Mel...
Sebanyak 34.000 Bungkus Nasi Dibagikan dalam Tradisi Buka Luwur Sunan Kudus

Sebanyak 34.000 Bungkus Nasi Dibagikan dalam Tradisi Buka Luwur Sunan Kudus

25 Jun 2026
Pilihan Pembaca
# 1
Masa Depan Bursa Dipertaruhkan
📅 Kamis, 25-Jun-2026
# 1
Masa Depan Bursa Dipertaruhkan
📅 Kamis, 25-Jun-2026
Masa Depan Bursa Dipertaruhkan
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.