Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kembalikan Harapan Rakyat dengan Kurangi Berutang dan Berantas Korupsi

📅 Senin, 01 Sep 2025, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi

“Jangan hanya rakyat kecil yang ditindak. Justru para elite yang terbukti menyalahgunakan kekuasaan harus dimiskinkan, agar ada efek jera,” kata Iyuk.

Dalam pandangan Iyuk, momentum krisis politik dan ekonomi saat ini seharusnya menjadi titik balik bagi pemerintah dan DPR untuk kembali ke jalur yang benar.

“Ini saatnya reformasi moral. Jangan lagi melihat rakyat hanya sebagai perusuh ketika turun ke jalan. Lihat akar masalahnya: ketidakadilan ekonomi, utang yang menumpuk, perilaku hedon para elit, dan korupsi yang merajalela,” paparnya.

Ia juga menekankan pentingnya konsistensi dalam kebijakan publik. Menurutnya, janji efisiensi dan penghematan harus tercermin dalam gaya hidup serta kebijakan para pejabat negara.

“Kalau pejabat bicara penghematan, tunjukkan lewat tindakan. Jangan rakyat diminta sabar, sementara DPR malah menambah tunjangan. Itu melukai nurani publik,” kata Iyuk.

Sementara itu, pakar sosiologi dari Universitas Airlangga, Surabaya, Bagong Suyanto, mengatakan, semangat kritis masyarakat yang meluap saat ini dalam aksi di sejumlah kota merupakan akumulasi ketidakpuasan sejak lama. Kebijakan-kebijakan yang ditempuh lebih berpihak ke segelintir golongan dan kurang memperhatikan faktor keadilan dan kesenjangan yang justru melahirkan kemiskinan struktural.

“Kemiskinan struktural terjadi karena struktur sosial yang ada membuat kelompok masyarakat tidak menguasai sarana ekonomi dan fasilitas -fasilitas secara merata membuat sebagian masyarakat tetap miskin,” katanya.

Di masyarakat muncul kesan kalau hasil pembangunan lebih banyak dinikmati oleh lapisan tertentu yang menimbulkan kesenjangan. Kesenjangan,bukan hanya antara kaya dan miskin dalam masyarakat, namun juga antara kota dan desa. Hanya mereka yang memiliki akses terhadap modal, kredit, informasi, dan kekuasaan yang dapat mengambil manfaat dari program-program pembangunan.

Banyak bukti menunjukkan, pembangunan yang dilakukan justru melahirkan kericuhan di tingkat lokal. Perundang-undangan nasional, misalnya cuma bisa bagus di atas kertas, sedangkan nyatanya malah merampasi hak-hak adat masyarakat lokal.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Daerah
KM Mutiara Sentosa II Menga...

Pemerintah Evaluasi Operator KMP Mutiara Santosa II Usai Kebakaran

29 menit yang lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Daerah
Pemerintah Evaluasi Operato...

Ratusan korban selamat KMP Mutiara Santosa II Tiba di Surabaya

33 menit yang lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Daerah
Ratusan korban selamat KMP ...
Ekonomi
Jelang HUT RI, Pedagang Ben...

Laga Penentu Jalan Menuju Empat Besar

36 menit yang lalu | Sujar

Olahraga
Laga Penentu Jalan Menuju E...

Arsenal Siap Berburu Semua Gelar

51 menit yang lalu | Sujar

Olahraga
Arsenal Siap Berburu Semua ...
Olahraga
Payton II Jadi Kunci Kebang...
Luar Negeri
Ceuta Spanyol Hadapi Gelomb...

Kejuaraan Taekwondo Asia 2026 Digelar di Jakarta, Jadi Ajang Perebutan Poin Olimpiade Los Angeles 2028.

Kejuaraan Taekwondo Asia 2026 Digelar di Jakarta, Jadi Ajang Perebutan Poin Olimpiade Los Angeles 2028.

03 Aug 2026
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.