Kembalikan Harapan Rakyat dengan Kurangi Berutang dan Berantas Korupsi
📅 Senin, 01 Sep 2025, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: istimewa
JAKARTA - Pemerintah bersama DPR harus segera mengembalikan harapan rakyat di tengah kondisi ekonomi nasional yang kian terhimpit. Beban utang yang menumpuk karena pembiayaan proyek-proyek nasional yang kurang prudent dan selektif di masa lalu, serta praktik korupsi yang makin menggurita menjadi akar masalah yang membuat kepercayaan publik semakin menurun.
Direktur Masyarakat Ekonomi Politik Indonesia (MEPI), Iyuk Wahyudi, mengatakan
hampir 40 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) saat ini hanya tersedot untuk pembayaran utang.
“Istilahnya gali lubang tutup lubang. Setiap tahun hutang kita bertambah yang sebagian untuk membayar utang lama. Ketika beban fiskal makin berat, ujung-ujungnya solusinya adalah melalui upaya peningkatan target pajak. Akhirnya masyarakat yang kembali dibebani. Ini jelas tidak sehat bagi masa depan bangsa,” kata Iyuk di Jakarta, Minggu (31/8).
Ia pun mengutip pentingnya Pemerintah mengedepankan roso atau empati dalam menjalankan kebijakan seperti yang yang disampaikan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengkubuwono X.
Sebaiknya Anda baca juga:
Iyuk menilai pernyataan Sultan Hamengkubuwono X itu sebagai pesan moral penting yang semestinya dijadikan pedoman pemerintah dan DPR. “Rakyat saat ini butuh bukti, bukan sekadar janji. Roso itu berarti memahami jeritan rakyat, bukan malah asyik dengan kepentingan sendiri,” katanya.
Iyuk juga mengkritisi inkonsistensi pemerintah dan DPR yang satu sisi berbicara soal efisiensi, tetapi di sisi lain justru menaikkan tunjangan bagi anggota DPR secara signifikan.
“Ini paradoks. Saat rakyat dibebani kenaikan pajak, tarif listrik, hingga iuran kesehatan, para wakil rakyat malah menikmati kenaikan fasilitas. Seolah-olah publik diminta ikat pinggang, sementara elite berpesta pora,” tegasnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia menyebut kondisi ini semakin memperlebar jurang ketidakpercayaan antara rakyat dan wakilnya di Senayan.
“DPR itu kan simbol aspirasi rakyat. Kalau rakyat sedang susah, seharusnya mereka merasakan hal yang sama, bukan malah berjoged kegirangan. Itu bentuk ketidakpekaan yang sangat mencederai amanah,” kata Iyuk.
Rusak Sendi Bangsa
Selain soal anggaran, Iyuk menegaskan korupsi tetap menjadi penyakit utama yang harus diberantas. Ia mengibaratkan praktik korupsi sudah seperti kanker stadium lanjut yang merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa.
“Jika tidak ada tindakan tegas, rakyat akan semakin apatis. Negara ini bisa kehilangan legitimasi jika yang dipertontonkan hanyalah praktek korupsi yang dilakukan secara ugal-ugalan,” katanya.
Ia menambahkan, sebagai bentuk komitmen legislatif terhadap semangat anti korupsi, mereka harus segera, tanpa pakai lama, untuk mengesahkan UU tentang perampasan aset koruptor dan bila perlu UU terkait pembuktian terbalik. Selain itu, penegakan hukum harus dilakukan secara menyeluruh tanpa pandang bulu, baik di eksekutif, legislatif, maupun lembaga negara lainnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!