Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Populasi Hiu Paus Menetap Lebih Lama di Papua Setelah Diungkap Riset Selama 13 Tahun Lebih

📅 Kamis, 28 Agu 2025, 17:51 WIB | Oleh:
Populasi Hiu Paus Menetap Lebih Lama di Papua Setelah Diungkap Riset Selama 13 Tahun Lebih Doc: ANTARA/HO-Konservasi Indonesia/Abdi Hasan
Ket. Momen langka, dua hiu paus melakukan vertical feeding bersamaan. Foto diambil saat riset di Teluk Cenderawasih, Papua pada September 2021.

JAKARTA - Riset di Bentang Laut Kepala Burung (BLKB), Papua memetakan populasi hiu paus (Rhincodon typus) di wilayah itu dan menemukan bahwa satwa itu menetap lebih lama di Teluk Cenderawasih dibandingkan lokasi atau negara lain.

Menurut pernyataan di Jakarta, Kamis (28/8), Edy Setyawan selaku peneliti Elasmobranch Institute Indonesia menjelaskan sudah melakukan penelitian tersebut selama 13 tahun dari September 2010 sampai Oktober 2023, bekerja sama dengan Badan Layanan Umum Daerah Unit Pelaksana Teknis Daerah (BLUD UPTD) Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan Kaimana dan Konservasi Indonesia.

Penelitian yang sudah diterbitkan di jurnal jurnal Frontiers in Marine Science itu juga dilakukan bekerja sama dengan pihak mancanegara seperti Conservation Internasional, University of Western Australia, University of Adelaide, dan Shark Research Foundation.

"Temuan kami menunjukkan bahwa BLKB menjadi habitat penting bagi populasi hiu paus muda yang menggunakan kawasan ini untuk makan dan tumbuh berkembang sebelum mereka bermigrasi ke laut lepas," kata Edy.

"Di seluruh perairan Indo-Pasifik, populasi hiu paus terus menurun hingga 63 persen. Dengan demikian, keberlangsungan populasi hiu paus di BLKB sangat penting dalam upaya pemulihan populasi ikan yang terancam punah ini,” ungkap Edy Setyawan," tambahnya.

Edy menjelaskan riset itu dilakukan menggunakan data berbasis identifikasi fotografis (Foto ID) yang memanfaatkan pola totol dan garis yang unik tubuh hiu paus untuk membedakan setiap individu.

Dari 1.118 pengamatan, tim berhasil mengidentifikasi 268 individu hiu paus yang hampir seluruhnya ditemukan di sekitar bagan apung, 159 individu di Teluk Cenderawasih dan 95 individu di Kaimana. Hal itu mengindikasikan tingginya interaksi antara hiu paus dengan aktivitas perikanan, khususnya bagan.

Salah satu temuan penting dalam penelitian ini adalah masa menetap atau residensi hiu paus yang relatif tinggi di Teluk Cenderawasih dibandingkan dengan agregasi hiu paus di lokasi atau negara lain. Tingkat residensi hiu paus di Teluk Cenderawasih rata-rata 77 hari, sementara di Kaimana hanya setengahnya dengan rata-rata 38 hari.

Selain itu, lebih dari setengah dari total individu yang diidentifikasi teramati lebih dari satu kali. Bahkan, ada dua individu masih terlihat berada ke wilayah ini dalam rentang waktu lebih dari 10 tahun.

Focal Species Conservation Senior Manager Konservasi Indonesia, Iqbal Herwata, yang juga menjadi salah satu penulis dari jurnal ini menjelaskan bahwa BLKB, khususnya Teluk Cenderawasih dan Kaimana, berperan sebagai nursery ground atau habitat pembesaran bagi hiu paus muda.

"Temuan ini menguatkan pentingnya kawasan ini sebagai habitat kunci hiu paus sebagai titik singgah dalam jangka waktu lama," kata Iqbal.

Riset juga menekankan pentingnya upaya pengelolaan wisata berbasis bagan secara hati-hati untuk mengurangi risiko luka akibat interaksi dengan bagan dan kapal. Hasil riset mengungkap bahwa 76,9 persen hiu paus di BLKB mengalami sejumlah luka, mulai dari abrasi/goresan, sayatan, amputasi sirip, hingga bekas gigitan pemangsa.

Meski hanya sebagian kecil luka yang diakibatkan baling-baling kapal yaitu sekitar 2,4 persen namun proporsi luka yang terkait interaksi manusia baik melalui perikanan maupun wisata tetap tinggi, utamanya di perairan Kaimana, mencapai 83,7 persen.

"Konservasi hiu paus adalah tanggung jawab bersama. Bukan hanya ilmuwan, tetapi juga masyarakat, pelaku wisata, dan pelaut. Pariwisata hiu paus dapat menjadi penggerak ekonomi lokal, namun harus dikelola dengan aturan yang jelas agar tidak menimbulkan luka pada hiu paus maupun dampak negatif pada ekosistem," ujar Iqbal. Ant

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Luar Negeri
Iran: Lalu Lintas Selat Hor...

Rupiah Masih Tertekan, 19 Juni 2026

1.5 jam yang lalu | Rizky

Ekonomi
Rupiah Masih Tertekan, 19 J...
Daerah
Warga Manfaatkan Sisa Mater...
Nasional
Hujan Diramalkan Bakal Turu...
Rona
Waow… Inul Bicara Transfo...

Empat Pendaki Gunung Semeru Ditangkap, Ada Apa

2 jam lalu | Aloysius Widiyatmaka

Daerah
Empat Pendaki Gunung Semeru...
  • Modus Canggih di Jepang: Eks Insinyur Racik Program Sendiri Demi Gasak Jutaan Yen
    Preview komentar:
    Hubungi nomor 082178509155 Atau 1500001 (layanan khusus untuk ...
    Anda dapat menghubungi layanan support (Tokocrypto) melalui nomor ...
  • Instruksi Prabowo Dijalankan! PKP Siapkan Rusun Subsidi di Kota-Kota Jatim
    Preview komentar:
    Berikut Nomor Whatsapp Resmi Tokocrypto adalah +62 818-898-300, ...
    Perlu di ingat, Saluran resmi Tokocrypto, hanya di ...
  • Rp2,2 Triliun Digelontorkan! Kementerian PKP Kebut Bangun Huntap Pascabencana di Sumatera
    Preview komentar:
    Sedih ya, teman-teman... Saluran resmi (Bri QLola) hanya ...
    Saluran resmi (Bri QLola) hanya bisa dihubungi di ...
Kenaikan BI Rate tak Boleh Ganggu Kredit ke Sektor UMKM

Kenaikan BI Rate tak Boleh Ganggu Kredit ke Sektor UMKM

19 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.