Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Imunisasi untuk Lawan Kanker Usus Besar dan Pankreas

📅 Kamis, 21 Agu 2025, 07:05 WIB | Oleh:
Imunisasi untuk Lawan Kanker Usus Besar dan Pankreas Doc: UF Health
Ket. Tim peneliti Universitas Florida yang dipimpin oleh Elias Sayour, MD, Ph.D., (tengah) mengembangkan vaksin mRNA yang meningkatkan efek melawan tumor dari imunoterapi dalam studi model tikus.

VAKSIN kanker telah menjadi subjek penelitian yang menjanjikan dalam beberapa tahun terakhir. The National Health Service (NHS) di Inggris telah menguji coba berbagai vaksin pada pasien melalui Cancer Vaccine Launch Pad (CVLP).

Vaksin semacam itu melatih sistem kekebalan tubuh untuk mengenali sel kanker sehingga sel yang menyerang kembali setelah perawatan seperti operasi dapat diburu dan dibunuh. Cara ini dapat mengurangi risiko kekambuhan penyakit.

Banyak vaksin kanker, termasuk beberapa yang berbasis teknologi mRNA, dipersonalisasi untuk tumor pasien. Namun, sebuah studi menunjukkan bahwa vaksin eksperimental non-personalisasi yang sudah diproduksi dalam skala besar dapat membantu mencegah kekambuhan kanker pankreas dan kolorektal.

Jika terbukti melalui uji coba lebih lanjut, para ahli mengatakan, pendekatan ini dapat bermanfaat karena vaksin tersebut kemungkinan lebih murah dan lebih cepat diakses daripada suntikan mRNA. Selain itu vaksi ini kurang beracun atau toksik dibandingkan beberapa terapi lain.

“Setelah tindak lanjut jangka panjang dari studi ini, kami dapat menunjukkan bahwa kelompok pasien yang menunjukkan respons imun memiliki kemungkinan lebih besar untuk tidak kambuhnya kanker dan hidup lebih lama dibandingkan dengan ekspektasi historis tentang apa yang akan terjadi pada pasien tersebut,” kata Prof. Zev Wainberg, seorang ahli onkologi di University of California, Los Angeles, dan salah satu penulis studi tersebut.

Para penulis mencatat bahwa 90 persen penderita kanker pankreas dan 50 persen penderita kanker kolorektal memiliki mutasi pada gen Kras. Mutasi ini mengakibatkan produksi protein Kras yang berubah yang menyebabkan sel membelah dan berproliferasi.

Menulis di jurnal Nature Medicine, Wainberg dan rekan-rekannya melaporkan bagaimana mereka memberikan vaksin yang disebut ELI-002 2P kepada 20 pasien yang telah menjalani operasi kanker pankreas dan lima pasien yang telah dioperasi kanker kolorektal.

Vaksin ini mengandung peptida rantai panjang asam amino, yang merupakan blok pembangun protein. Vaksin ini bekerja dengan melatih sel-T sistem imun tubuh untuk mengenali dan membunuh sel kanker yang bermutasi sehingga menghasilkan protein Kras yang berubah.

Pada median tindak lanjut hampir 20 bulan, tim menemukan pasien terbagi dalam dua kelompok: 17 orang yang memiliki respons imun yang kuat terhadap vaksin dan delapan orang yang memiliki respons yang lebih lemah.

Tim menemukan bahwa kelompok pertama mengalami periode yang lebih lama sebelum kanker mereka kambuh dan bertahan hidup lebih lama secara keseluruhan. Secara keseluruhan, empat dari 17 pasien tersebut meninggal selama masa tindak lanjut, dibandingkan dengan tujuh dari delapan orang yang memiliki respons imun yang lebih rendah. hay

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.