Defisit Transaksi Berjalan Melebar Tajam, Ketahanan Ekonomi Indonesia Mulai Goyang?
Kamis, 21 Agu 2025, 15:59 WIBJAKARTA - Bank Indonesia (BI) Defisit transaksi berjalan pada triwulan II 2025 melebar menjadi 3,0 miliar dolar AS (0,8 persen dari PDB), dibandingkan dengan hanya 0,2 miliar dolar AS (0,1 persen dari PDB) pada triwulan sebelumnya.Â
Kondisi ini menjadi sinyal keras bahwa fondasi eksternal ekonomi Indonesia tengah diuji.Â
Lonjakan ini tak bisa dipandang sekadar angka statistik, melainkan cerminan rapuhnya keseimbangan antara arus ekspor-impor, pembayaran jasa, serta aliran modal.
Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan: apakah Indonesia mulai terlalu bergantung pada aliran modal jangka pendek untuk menutup defisit, sementara sektor riilâterutama eksporâtak cukup bertenaga?Â
Jika tren ini berlanjut, risiko tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan kepercayaan investor bisa membesar.
Di satu sisi, defisit transaksi berjalan memang bisa dimaknai sebagai tanda meningkatnya aktivitas impor barang modal dan bahan baku untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.Â
Namun di sisi lain, membiarkan defisit melebar tanpa strategi mitigasi berpotensi menjerumuskan Indonesia pada jebakan defisit kembar: pelebaran defisit transaksi berjalan sekaligus tekanan pada defisit fiskal.
Dengan kata lain, laporan ini seharusnya menjadi peringatan dini bagi pemerintah dan otoritas moneter untuk menimbang ulang strategi ketahanan eksternal, apakah cukup hanya mengandalkan stabilitas rupiah jangka pendek, atau sudah waktunya mendesain ulang model ekspor yang lebih bernilai tambah agar defisit tak berubah menjadi bom waktu ekonomi.
Secara kesuruhan, kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan II 2025 tetap terjaga dengan mencatatkan defisit 6,7 miliar dolar AS.
Adapun posisi cadangan devisa pada akhir Juni 2025 tetap tinggi sebesar 152,6 miliar dolar AS, setara untuk pembiayaan 6,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Posisi cadangan devisa tersebut berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
"Defisit transaksi berjalan tercatat rendah di tengah perlambatan ekonomi global dan harga komoditas. Sementara itu, transaksi modal dan finansial mencatat defisit yang terkendali di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Junanto Herdiawan dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (21/8).
Neraca perdagangan nonmigas tetap membukukan surplus, meski lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya, sejalan dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi global dan harga komoditas.
Di sisi lain, defisit neraca perdagangan migas menurun sejalan dengan harga minyak global yang lebih rendah.
Sementara itu, defisit neraca pendapatan primer meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya, seiring dengan kenaikan pembayaran dividen dan bunga/kupon sesuai pola triwulanan.
Surplus neraca pendapatan sekunder meningkat dipengaruhi kenaikan hibah dan remitansi pekerja migran Indonesia (PMI) di luar negeri.
Sementara itu, kinerja transaksi modal dan finansial tetap terkendali di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi.
Investasi langsung membukukan peningkatan surplus dibandingkan triwulan I 2025 sebagai cerminan dari terjaganya persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian dan iklim investasi domestik.
Investasi portofolio mencatat defisit terutama didorong oleh aliran keluar modal asing dalam bentuk surat utang domestik.
Sedangkan, investasi lainnya mencatat surplus dipengaruhi oleh penarikan pinjaman luar negeri sektor swasta.
Dengan perkembangan tersebut, transaksi modal dan finansial pada triwulan II 2025 mencatat defisit sebesar 5,2 miliar dolar AS.
"Ke depan, Bank Indonesia senantiasa mencermati dinamika perekonomian global yang dapat memengaruhi prospek NPI dan terus memperkuat respons bauran kebijakan yang didukung sinergi kebijakan yang erat dengan Pemerintah dan otoritas terkait, guna memperkuat ketahanan sektor eksternal," kata Junanto.
Kinerja NPI 2025 diprakirakan tetap sehat ditopang oleh surplus transaksi modal dan finansial serta defisit transaksi berjalan yang rendah dalam kisaran defisit 0,5 persen sampai dengan 1,3 persen dari PDB.
Surplus transaksi modal dan finansial didukung oleh aliran masuk modal asing sejalan dengan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian domestik yang tetap baik dan imbal hasil investasi yang menarik.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Ekonomi Jakarta Tumbuh 5,59% di Triwulan I, Topang Seperenam Ekonomi Nasional
-
Libur Paskah, Penumpang Kereta dari Jakarta Capai 30 Ribu Orang
-
Cegah Pelarian Modal, BI Diperkirakan Menaikkan Bunga Acuan di Semester I-2026
-
Harga BBM di Inggris Melonjak, SPBU Alami Gangguan Pasokan
-
Harga Telur Bergejolak, Satgas Saber Pangan Jabar Turun Tangan Kendalikan Harga
-
Hari Film Nasional: JYFF 2026 Perkuat Peran Generasi Muda dalam Industri Kreatif Jakarta
-
Arus mudik sepeda motor di Pantura
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.