Kemenko PMK Luncurkan Gerakan KITATANGGUH sebagai Upaya Kolektif Kurangi Risiko Bencana
📅 Kamis, 14 Agu 2025, 14:05 WIB | Oleh: Sriyono
Doc: antara foto
JAKARTA - Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) meluncurkan Gerakan KITATANGGUH sebagai upaya kolektif dalam mengurangi risiko bencana, menghadapi bencana, dan memulihkan kehidupan pascabencana.
“Saya kira kita semua tahu betapa besar kerugian yang harus ditanggung oleh pemerintah, oleh masyarakat yang menjadi korban, dan juga oleh publik secara keseluruhan akibat bencana. Ini harus kita selesaikan bersama dan kita semua harus benar-benar tangguh," kata Menko PMK Pratikno di Jakarta, kemarin.
Pratikno menekankan pentingnya membangun budaya tangguh di masyarakat melalui kesadaran kolektif untuk melakukan langkah pencegahan.
Menurut dia, budaya tangguh di tengah masyarakat harus terus diperkuat untuk mengurangi risiko bencana.
"Kita harus terus menerus membangun budaya tangguh, masyarakat mempunyai kesadaran yang tinggi untuk mengurangi risiko bencana, membuang sampah pada tempatnya, menanam pepohonan mencegah erosi, mengurangi risiko sedimentasi, dan kegiatan-kegiatan preventif di level masyarakat," kata dia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain peran masyarakat, Menko PMK menekankan pemerintah juga memegang tanggung jawab besar dalam memperkuat ketangguhan nasional.
Menurut dia, diperlukan perbaikan infrastruktur secara berkelanjutan agar semakin tangguh, disertai inovasi di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan manajemen untuk memastikan seluruh sistem penanggulangan bencana mampu merespons secara efektif.
Keberhasilan Gerakan KITATANGGUH, kata dia, memerlukan dukungan aktif dari sektor swasta.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurut dia, penanggulangan bencana tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah, melainkan juga harus melibatkan dunia usaha agar seluruh elemen bangsa memiliki ketangguhan yang sama.
KITATANGGUH merupakan salah satu dari flagship Kemenko PMK dengan tiga subkomponen, yaitu Budaya Tangguh, Kolaborasi Tangguh, dan Dasbor Tangguh yang mengintegrasikan unsur multipihak dengan daerah rawan bencana.
Pratikno juga mendorong Kementerian Agama untuk memperkuat materi mitigasi bencana dalam pembelajaran di madrasah, pesantren, dan lembaga pendidikan keagamaan lainnya. “Sehingga, membentuk kesadaran sejak dini di kalangan pelajar dan komunitas umat beragama," kata Pratikno.
Pratikno mengatakan peran Kementerian Agama begitu strategis dalam mengedukasi pengurangan risiko bencana melalui jalur pendidikan keagamaan.
Menko PMK menekankan pentingnya membangun budaya tangguh di masyarakat untuk mengurangi risiko bencana. Langkah-langkah sederhana, seperti tidak membuang sampah sembarangan, menanam pohon, dan menjaga kelestarian lingkungan dinilai efektif mencegah dampak lebih besar.
"Kegiatan preventif di level masyarakat dan pemerintah harus terus dilakukan, termasuk inovasi teknologi untuk mitigasi bencana," katanya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!