Presiden AS, Donald Trump Perpanjang Gencatan Tarif dengan Tiongkok Selama 90 Hari
📅 Rabu, 13 Agu 2025, 01:10 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo S
Doc: ANDREW CABALLERO-REYNOLDS/AFP
TOKYO - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump pada Senin (11/8) menandatangani perintah eksekutif yang memperpanjang gencatan perang tarif dengan Tiongkok selama 90 hari ke depan seperti dilaporkan Reuters.
Tanpa perpanjangan tersebut, produk-produk buatan Tiongkok yang masuk ke AS akan dikenakan tarif tambahan sebesar 24 persen mulai Selasa (12/8).
Para pejabat memastikan bahwa kedua negara berencana memperpanjang penundaan itu setelah melakukan pembicaraan tingkat tinggi di Stockholm, Swedia, akhir Juli lalu.
Informasi tentang perpanjangan itu dilaporkan Reuters dengan mengutip seorang pejabat Gedung Putih.
Sebelumnya, ketika ditanya wartawan soal perpanjangan gencatan tarif yang diteken Mei lalu, Trump menjawab, “ita lihat saja nanti”.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dia juga menegaskan bahwa hubungannya dengan Presiden Tiongkok, Xi Jinping “amat baik”.
Pada pertengahan Mei, AS dan Tiongkok sepakat untuk menahan tarif tinggi yang saling mereka terapkan selama perang dagang.
Gencatan itu adalah hasil kesepakatan di Jenewa pada putaran pertama perundingan kedua negara. Saat ini, AS memberlakukan tarif 10 persen dari rencana kenaikan 34 persen untuk seluruh impor dari Tiongkok.
Sebaiknya Anda baca juga:
Tarif awal 10 persen itu diberlakukan sejak awal April di bawah skema tarif "timbal balik," sementara sisa kenaikannya masih akan dirundingkan.
Tiongkok juga mempertahankan tarif 10 persen dari rencana kenaikan 34 persen untuk seluruh barang AS yang diimpor, sementara sisa 24 persen masih dalam tahap negosiasi.
Meski menunjukkan sikap lebih lunak terhadap Xi, pekan lalu Trump mengisyaratkan AS bisa memberlakukan tarif baru kepada Tiongkok karena terus membeli minyak dari Russia, setelah sebelumnya mengenakan tarif serupa kepada India.
Level Terendah
Sebelumnya, kantor berita Russia RIA Novosti menghitung impor barang dari Tiongkok di AS terus menurun pada Juni 2025, bahkan mencapai level terendah dalam 16 tahun terakhir.
Penurunan itu terjadi di tengah perang tarif di antara kedua negara dengan ekonomi terbesar di dunia itu.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!