Wajib Tahu! Kenapa Calon Pengantin Perlu Cek Kesehatan Sebelum Menikah?
📅 Minggu, 10 Agu 2025, 14:00 WIB | Oleh: Tim PenulisData Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada 2024 mencatat ada lebih dari 31 ribu kasus HIV baru, dengan 19% (nyaris enam ribu orang) berasal dari anak muda berusia 20-24 tahun.
Ibu dengan HIV berisiko menularkan virus kepada bayinya selama kehamilan, persalinan, maupun saat menyusui. Kondisi ini berbahaya karena bayi yang tertular HIV rentan terhadap berbagai infeksi, memiliki berat badan lahir rendah, serta mengalami keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan.
Skrining lain yang perlu kita lakukan untuk deteksi penyakit menular pemicu komplikasi kehamilan, yaitu tes VDRL/RPR (deteksi sifilis), HBsAg (deteksi hepatitis B), serta TORCH (deteksi toksoplasma, rubella, cytomegalovirus, dan herpes simpleks).
4. Periksa kesuburan
Sebaiknya Anda baca juga:
Penelitian tahun 2023 dalam BMC Psychiatry mengungkapkan bahwa gangguan kesuburan bisa memicu konflik dan beban psikologis saat pernikahan.
Karena itu, tak ada salahnya bagi laki-laki yang berencana memiliki anak untuk melakukan tes kesuburan berupa analisis sperma sebelum menikah.
Sementara perempuan bisa melakukan pemeriksaan ginekologi untuk mendeteksi masalah pada rahim maupun organ reproduksi, seperti kista ovarium, sindrom polikistik ovarium (PCOS), dan mioma uteri.
Sebaiknya Anda baca juga:
5. Deteksi penyakit metabolik
Kamu dan pasangan juga perlu melakukan tes urine lengkap dan tes gula darah. Tes ini berguna untuk memeriksa keberadaan penyakit sistemik dan metabolik (proses tubuh menyerap zat gizi) yang berisiko mengganggu program kehamilan, misalnya diabetes.
Bangun keluarga sehat sejak dini
Manfaat cek kesehatan pranikah bukan sekadar untuk mengetahui kondisi kesehatan kamu dan pasangan. Ini merupakan langkah awal yang krusial untuk mencegah berbagai masalah yang berisiko mengganggu kesehatan keluarga dan keharmonisan rumah tangga, memutus mata rantai penyakit, serta melahirkan generasi yang sehat.
Indra Adi Susianto, Dosen dan Peneliti Klinis, Unika Soegijapranata
Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!