Sertifikat Energi Terbarukan Beri Nilai Tambah untuk Pembangkit EBT

Jumat, 01 Agu 2025, 04:00 WIB

Jakarta - Direktur Utama Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Fajar Wibhiyadi menyampaikan Renewable Energy Certificate (REC) atau Sertifikat Energi Terbarukan bermanfaat bagi pembangkit listrik energi baru terbarukan (EBT), pembeli REC, serta pemerintah.

“Bagi Pembangkit Listrik energi baru terbarukan, REC dapat meningkatkan nilai bagi investor, serta memberikan insentif untuk mengembangkan lebih banyak proyek EBT,” ucap Fajar dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Kamis (31/7). 

Ket. Foto: Direktur Utama Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Fajar Wibhiyadi dalam acara Energi & Mineral Festival di Jakarta, Rabu (30/7). — Sumber: Antara

Bagi pembeli, lanjut dia, REC dapat membantu mereka mencapai tujuan keberlanjutan, meningkatkan reputasi, dan memenuhi standar lingkungan.

Sedangkan, bagi pemerintah, REC bisa menjadi stimulus atau akselerator untuk pencapaian target bauran EBT nasional.

Menurut Fajar, dampak tersebut dikarenakan pembangkit listrik dengan energi terbarukan akan mendapatkan nilai tambah. Selain menjual tenaga listriknya, mereka juga dapat mengonversikan setiap 1 Megawatt Hour (MWh) listrik yang dihasilkan menjadi 1 REC.

“Harapannya, dengan adanya REC ini, akan banyak pelaku usaha yang akan berinvestasi dalam pengembangan pembangkit listrik EBT, yang akan berdampak pada penambahan kapasitas listrik EBT,” tuturnya.

Terkait bauran energi nasional, pemerintah dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) menargetkan bauran EBT nasional sebesar 23 persen pada tahun 2025. Hal ini juga menjadi instrumen yang berpotensi untuk digunakan dalam menghadapi Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM).

Dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, pemerintah Indonesia menargetkan 61 persen bauran energi nasional berasal dari sumber terbarukan.

Sementara itu, dalam Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) 2024 disebutkan, total kapasitas pembangkit listrik diperkirakan mencapai 443 GW pada tahun 2060, dengan tenaga surya (109,4 GW), tenaga air (70,5 GW), angin (73,2 GW), dan panas bumi (22,7 GW) sebagai pendorong utama pertumbuhan.

Redaktur: Andreas Tanjung

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.