Investor Ketar-Ketir! Rupiah Melemah 1,18 Persen, Sinyal Bahaya dari Dalam dan Luar Negeri
📅 Jumat, 01 Agu 2025, 18:26 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Antara
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS cenderung melemah sepekan ini seiring penguatan dolar AS akibat ekspektasi berlanjutnya kebijakan suku bunga tinggi oleh The Fed.
Pelemahan ini mencerminkan tekanan eksternal dan ketidakpastian domestik yang masih membayangi pasar keuangan Indonesia.
Selain faktor eksternal, pelemahan ini juga diperparah oleh minimnya sentimen positif dari dalam negeri, termasuk realisasi belanja pemerintah yang masih tertahan serta aliran modal asing yang mulai melambat.
Kondisi ini mengindikasikan masih rapuhnya daya tahan rupiah terhadap guncangan eksternal, terutama saat tekanan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global masih tinggi.
Kurs rupiah sepanjang 28 Juli - 1 Juli 2025 melemah 193 poin atau 1,18 persen. Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan, Jumat (1/8), di Jakarta melemah sebesar 57 poin atau 0,35 persen menjadi Rp16.513 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.456 per dolar AS.
Sebaiknya Anda baca juga:
Research and Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) Taufan Dimas Hareva mengatakan pelemahan nilai tukar (kurs) rupiah dipengaruhi potensi Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga pada Federal Open Market Committee (FOMC) mendatang semakin menguat.
"Sentimen negatif ini didorong oleh rilis data ekonomi Amerika Serikat yang kembali solid, terutama data inflasi PCE (Personal Consumption Expenditures) dan ketenagakerjaan," katanya di Jakarta, Jumat (1/8).
Mengutip Xinhua, kenaikan inflasi AS disebabkan pertimbangan The Fed apakah akan mempertahankan atau menurunkan suku bunga pada akhir tahun ini. Data tersebut muncul sehari usai The Fed mengumumkan untuk tetap mempertahankan suku bunga.
Sebaiknya Anda baca juga:
Secara tahunan, PCE naik menjadi 2,6 persen, lebih tinggi dari perkiraan. Adapun PCE Inti, naik 0,3 persen secara bulanan dan 2,8 persen yoy dari ekspektasi 2,7 persen.
Selain itu, investor global disebut tengah menantikan rilis data Non-Farm Payrolls (NFP) malam ini yang bisa menjadi penentu arah kebijakan moneter AS ke depan.
Ketidakpastian arah suku bunga ini dinilai mendorong pelaku pasar masuk ke aset-aset berbasis dolar AS, sehingga meningkatkan permintaan terhadap dolar AS.
"Penguatan dolar AS secara global menjadi faktor utama tekanan terhadap rupiah dalam jangka pendek," ungkap Taufan.
Dengan demikian, lanjutnya, pergerakan kurs rupiah ke depan akan sangat dipengaruhi oleh arah data tenaga kerja AS malam ini serta sikap investor terhadap kebijakan The Fed dalam menghadapi inflasi yang belum mereda.
The Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 4,25-4,5 persen pada bulan ini meskipun ada tekanan dari Gedung Putih untuk melonggarkan kebijakan moneter.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!