Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Jepang Tegaskan Komitmen Bertahan di Indonesia Meski Tarif AS Naik

📅 Rabu, 30 Jul 2025, 16:30 WIB | Oleh:
Jepang Tegaskan Komitmen Bertahan di Indonesia Meski Tarif AS Naik Doc: Jakarta Globe

JAKARTA – Perwakilan senior dari perusahaan-perusahaan Jepang yang beroperasi di Indonesia menegaskan akan tetap berkomitmen menjalankan bisnisnya di Tanah Air, meski tarif Amerika Serikat terhadap produk Indonesia lebih tinggi dibanding negara lain. Pernyataan ini muncul di tengah ketegangan perang dagang yang semakin memanas usai Amerika Serikat resmi memberlakukan tarif 19 persen terhadap barang asal Indonesia.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah secara resmi menetapkan tarif impor sebesar 19 persen terhadap produk Indonesia yang dikirim ke negaranya. Keputusan ini diumumkan setelah berbulan-bulan negosiasi, meski belum ada kepastian kapan tarif tersebut mulai berlaku secara efektif. Penerapan tarif tersebut masih menunggu proses finalisasi dan ratifikasi kedua belah pihak.

Sebelumnya, sejak April, AS sudah mengenakan tarif dasar sebesar 10 persen. Kini, puluhan negara lain, termasuk beberapa anggota ASEAN, hanya memiliki waktu dua hari untuk mencapai kesepakatan dagang dengan Trump. Mantan taipan properti itu bahkan mengancam akan menaikkan tarif hingga 15 hingga 20 persen bagi mitra dagang yang menolak menjalin kesepakatan terpisah dengan Washington.

Serangan tarif yang dilancarkan Trump membuat negara-negara ASEAN dan dunia berada dalam kewaspadaan tinggi. Blok Asia Tenggara tersebut baru-baru ini menggelar pertemuan tingkat tinggi dengan Federasi Kamar Dagang dan Industri Jepang di ASEAN (FJCCIA) di kantor pusat mereka di Jakarta, sebagai tanggapan atas situasi perdagangan yang memanas.

Dalam wawancara singkat, Ketua FJCCIA, Wakabayashi Koichi, ditanya apakah perusahaan-perusahaan Jepang akan meninggalkan Indonesia jika tarif terhadap Jakarta lebih tinggi.

“Jepang sangat berkomitmen terhadap komunitas dan pasar lokal. Perusahaan-perusahaan Jepang tidak hanya berinvestasi untuk menciptakan lapangan kerja yang lebih luas, tetapi kami juga mentransfer teknologi dan pengetahuan kami… Ada pengembangan sumber daya manusia dan pemasok lokal,” ujar Wakabayashi di Jakarta.

Ia menambahkan bahwa berbagai faktor tersebut membuat perusahaan Jepang “sulit untuk memindahkan fasilitas manufakturnya begitu saja”. Komitmen terhadap pengembangan lokal dan keberlanjutan usaha menjadi fondasi utama dalam menjaga keberadaan mereka di Indonesia.

Data resmi yang dirilis pada Selasa menunjukkan bahwa Jepang menjadi investor asing terbesar kelima di Indonesia sepanjang Januari hingga Juni tahun ini. Nilai investasi Jepang mencapai 1,6 miliar dolar AS, hanya sedikit di bawah Malaysia yang mencatat investasi sebesar 1,7 miliar dolar AS.

Rosan Roeslani, CEO lembaga dana abadi negara Danantara, dalam konferensi pers mengungkapkan bahwa sektor energi terbarukan Indonesia menarik minat investor Jepang, khususnya Mitsubishi Corporation yang baru saja ia temui. Danantara baru-baru ini menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Japan Bank for International Cooperation (JBIC) untuk mendanai proyek-proyek energi terbarukan bersama.

“Pendanaan jangka panjang yang kami tandatangani dengan JBIC ini akan memberikan dampak luar biasa,” kata Rosan.

Indonesia menjadi salah satu negara Asia Tenggara yang telah mencapai kesepakatan tarif dengan Amerika Serikat. Pemerintah berhasil menurunkan tarif dari 32 persen menjadi 19 persen melalui negosiasi dengan Presiden Trump. Sebagai perbandingan, tarif Vietnam lebih tinggi satu poin persentase, yaitu 20 persen, namun masih jauh lebih rendah dari ancaman awal Trump yang mencapai 46 persen. Sama seperti Indonesia, Filipina juga dikenakan tarif sebesar 19 persen.

Trump masih membuka ruang negosiasi bagi negara-negara ASEAN lainnya. Ia bahkan mengancam akan membekukan negosiasi dagang dengan Kamboja dan Thailand, yang baru-baru ini terlibat konflik bersenjata di wilayah perbatasan, sampai tercapai gencatan senjata. Kedua negara tersebut terancam dikenakan tarif sebesar 36 persen pada Jumat mendatang, jika belum berhasil mencapai kesepakatan dagang. Sementara itu, Malaysia yang menghadapi ancaman tarif 25 persen masih berupaya keras mencapai kesepakatan yang menguntungkan kedua pihak dengan AS.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Liga Arab Kukuhkan Nabil Fahmy sebagai Sekjen

1.5 jam yang lalu | Deri Henriawan

Luar Negeri
Liga Arab Kukuhkan Nabil Fa...
Luar Negeri
Pemimpin Korut Bertekad Per...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.