Studi: Sanksi Sama Mematikannya dengan Konflik Bersenjata
📅 Kamis, 24 Jul 2025, 02:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Istimewa
LONDON – Sebuah analisis terkini mengungkapkan bahwa sanksi dapat menyebabkan kematian sebanyak konflik bersenjata, dengan sanksi sepihak dikaitkan dengan lebih dari setengah juta kematian per tahun.
Sanksi sepihak dan ekonomi yang diberlakukan oleh Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (UE) misalnya telah menyebabkan peningkatan signifikan dalam angka kematian yang secara tidak proporsional merugikan anak-anak di bawah usia lima tahun, demikian temuan studi yang diterbitkan dalam jurnal Lancet Global Health.
Studi itu juga mengungkapkan bahwa sanksi dapat menghambat penyediaan kesehatan masyarakat dan menghalangi organisasi kemanusiaan beroperasi secara efektif, sehingga menambah jumlah korban jiwa.
Para peneliti menemukan bahwa sanksi sepihak menyebabkan lebih dari 560.000 kematian setiap tahun di seluruh dunia. Angka itu berada dalam kisaran yang sama dihitung para peneliti untuk kematian tahunan akibat konflik bersenjata menggunakan literatur masa lalu dan perhitungan mereka sendiri.
"Woodrow Wilson menyebut sanksi sebagai 'sesuatu yang lebih dahsyat daripada perang'. Bukti kami menunjukkan bahwa ia benar," tulis penulis Francisco Rodriguez, Silvio Rendon, dan Mark Weisbrot.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Sulit untuk membayangkan intervensi kebijakan lain yang memiliki dampak buruk terhadap kehidupan manusia dan masih digunakan secara meluas,” tulis mereka.
Para peneliti, yang karyanya didanai oleh Pusat Penelitian Ekonomi dan Kebijakan, sebuah lembaga pemikir progresif, mengamati tingkat kematian berdasarkan kelompok usia dalam episode sanksi untuk 152 negara antara tahun 1971 dan 2021. Mereka menggunakan empat alat ekonometrika yang unik untuk mengisolasi hubungan sebab akibat antara kategori sanksi dan tingkat kematian yang lebih tinggi.
Temuan mereka konsisten di keempat metode: Sanksi global, ekonomi, dan unilateral semuanya terkait dengan angka kematian yang lebih tinggi. Sayangnya sanksi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tidak signifikan secara statistik.
Para penulis menunjukkan, sanksi PBB berpotensi memiliki dampak yang lebih kecil karena sanksi tersebut dibingkai sebagai upaya untuk meminimalkan dampak terhadap penduduk sipil, sementara sanksi AS sering kali bertujuan untuk perubahan rezim atau pergeseran perilaku politik, yang memperburuk kondisi kehidupan di negara-negara sasaran.
"Sering kali, rezim yang jahat akan menyalahkan sanksi atas semua masalah di negaranya," ujar Jeremy Paner, pengacara sanksi di Hughes Hubbard.
Selama puluhan tahun, akademisi telah memperdebatkan bagaimana sanksi mempengaruhi mortalitas, tetapi kesulitan membuktikan adanya bukti hubungan semacam itu.
Dr Joy Gordon, yang berfokus pada sanksi di Universitas Loyola di Chicago, mengatakan studi Lancet itu menawarkan argumen yang meyakinkan, didukung oleh metodologi yang ketat, bahwa sanksi berdampak langsung pada mortalitas di semua kelompok usia.
Oleh karena itu para peneliti mendesak para pembuat kebijakan untuk menahan diri dalam memberikan sanksi, terutama karena penggunaan sanksi tersebut kini telah melonjak. ST/Bloomberg/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!