Pecahkan Rekor MURI, Lebih dari 1.000 Petani Panen Melon Davina F1 di Nganjuk
📅 Jumat, 18 Jul 2025, 15:42 WIB | Oleh: Mohammad Zaki Alatas
Doc: Dok. Istimewa
NGANJUK – Sebuah pemandangan luar biasa terjadi di Desa Getas, Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk. Lebih dari 1.000 petani dari berbagai daerah di Jawa Timur berkumpul untuk mengikuti panen raya melon varietas Davina F1 di lahan seluas satu hektare.
Managing Director PT East West Seed Indonesia (produsen benih Cap Panah Merah), Glenn Pardede, menyebut kegiatan belum lama ini tersebut sebagai bentuk konkret komitmen perusahaan dalam mendukung petani Indonesia, bukan hanya dari sisi benih, tetapi juga lewat edukasi dan pendampingan.
“Petani perlu bukti, bukan janji. Melalui panen raya ini, kami tunjukkan hasil nyata Davina F1. Kami ingin lebih banyak petani melihat sendiri keunggulannya, sehingga tertarik menanam,” ujar Glenn dalam keterangan tertulisnya, Jumat (18/5).
Tak hanya mencuri perhatian, kegiatan ini juga resmi tercatat di Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai panen melon dengan peserta terbanyak di Indonesia.
Kegiatan kolosal ini bukan sekadar perayaan panen. Ia menjadi simbol kebangkitan semangat bertani secara modern, berbasis teknologi benih unggul dan pendampingan lapangan. Sekaligus juga penegasan bahwa potensi hortikultura di daerah-daerah seperti Nganjuk masih sangat besar untuk dikembangkan secara berkelanjutan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Melon Davina F1 memang telah diuji di banyak lokasi. Keunggulannya terletak pada produktivitas tinggi, ketahanan terhadap penyakit, dan kualitas buah premium yang sesuai dengan permintaan pasar modern. Bentuk buahnya seragam, kulit kokoh, dan memiliki daya simpan lebih lama—ideal untuk pasar ritel dan ekspor.
Pertama Kalinya
Perwakilan MURI, Sri Widayati, mengakui ini adalah pertama kalinya pihaknya mencatatkan panen melon sebagai sebuah rekor nasional.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Kami menyaksikan kegiatan spektakuler: panen melon serentak oleh lebih dari seribu petani. Ini bukan hanya tentang jumlah peserta, tapi juga semangat kolaborasi petani dan dunia usaha yang patut diapresiasi,” ujar Widayati.
Sedangkan Kepala Dinas Perkebunan Jawa Timur, Rudy Prasetya, mengungkapkan bahwa Jawa Timur menyumbang 42% produksi melon nasional.
Namun, Kabupaten Nganjuk sendiri baru berkontribusi sekitar 2%.
“Ini peluang besar bagi Nganjuk untuk meningkatkan kontribusi. Dengan dukungan benih unggul seperti Davina F1 dan pendampingan intensif, produktivitas petani bisa dilipatgandakan,” ujarnya.
Menurut Rudy, melon dengan kadar manis sedang dan bertekstur lembut seperti Davina F1 akan semakin relevan dengan tren konsumsi masyarakat yang kini lebih peduli terhadap pola makan sehat.
Glenn menambahkan bahwa Jawa Timur sangat potensial untuk menjadi sentra melon unggulan, dan Davina F1 telah dibuktikan mampu tumbuh baik di berbagai wilayah mulai dari Madiun hingga Banyuwangi.
“Kami targetkan produksi mencapai 45 ton per hektare. Selain benih unggul, kami juga siapkan tenaga lapangan untuk membantu petani dari awal tanam hingga panen,” jelasnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!