Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Lonjakan Kewajiban Mengejutkan, Pola Fiskal Sudah Bergeser Jadi Berbasis Utang

📅 Senin, 07 Jul 2025, 01:10 WIB | Oleh: Tim Redaksi

“Kalau utang dipakai hanya untuk belanja rutin, program populis jangka pendek, atau proyek yang tidak punya nilai keekonomian jangka panjang, maka itu bukan investasi, tapi beban,” katanya.

Ia mendorong pemerintah memperbaiki kualitas belanja, mengurangi kebergantungan pada skema pembiayaan jangka pendek, dan memperkuat basis pendapatan negara. Tanpa itu, dia khawatir Indonesia akan terjebak dalam lingkaran stagnasi fiskal, di mana belanja harus terus ditopang utang, sementara ekonomi tidak tumbuh cukup cepat untuk menutupnya.

Sementara itu, Manajer Riset Seknas Fitra, Badiul Hadi mengatakan kenaikan total kewajiban itu, tentu berdampak langsung pada beban fiskal jangka menengah dan panjang, setidaknya melalui dua hal. Pertama, kenaikan pembayaran bunga utang. Dalam APBN 2024 dan pagu 2025, alokasi pembayaran bunga utang mencapai 500 triliun rupiah, dan jumlah itu akan terus naik seiring bertambahnya outstanding utang dan kenaikan suku bunga global.

Kedua, Jelas Badiul, ruang fiskal yang makin sempit, karena belanja wajib seperti pembayaran bunga, subsidi, dan belanja pegawai terus meningkat, maka ruang untuk belanja pembangunan, layanan publik, dan agenda prioritas (pendidikan, kesehatan, iklim, dll.) akan semakin terbatas.

Pemerintah tambahnya selalu menyatakan aman, dengan argumentasi bahwa rasio utang terhadap PDB masih di bawah ambang batas aman menurut UU Keuangan Negara (di bawah 60 persen dari PDB) dan standar internasional. Namun, yang perlu dicatat dan mendapat perhatian pemerintah, pembayaran bunga terhadap penerimaan sudah mendekati atau melebihi 20 persen.

Menurut Dana Moneter Internasional (IMF) angka itu menjadi salah satu indikator warning atas beban utang.

“Penerimaan negara belum tumbuh secepat kenaikan beban utang, sehingga sustainability fiskal bisa terancam,” katanya.

Apalagi kalau melihat realisasi APBN Semester 1- 2025 yang defisit 197,0 triliun rupiah. “Defisit ini berpotensi meningkat jika pemerintah tidak antisipasi dengan baik,”ungkap Badiul.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Karhutla Kalimantan Makin Mengkhawatirkan, BNPB Perkuat Operasi Modifikasi Cuaca dan Armada Pemadaman
    Preview komentar:
    Bank Panin error hari ini Nomor WhatsApp resmi ...
    Bank Panin error hari ini Nomor WhatsApp resmi ...
  • 'Perang Dagang' AS vs Kanada, PM Carney Umumkan Tarif Balasan untuk Produk-produk Amerika
    Preview komentar:
    Bagaimana cara menghubungi call center Bank Panin Nomor WhatsApp ...
    Bagaimana cara menghubungi call center Bank Panin Nomor WhatsApp ...
  • Prakiraan Cuaca Jakarta Cerah Berawan pada Minggu (23/8), Suhu Capai 26 hingga 31 Derajat Celcius
    Preview komentar:
    Bagaimana solusi jika kartu ATM Bank Panin tertelan Nomor ...
    Bagaimana solusi jika kartu ATM Bank Panin tertelan ...
Advertisement
injourney
Advertisement
astra2
Olahraga
Cincinnati Open, Area Sial ...
NTT Terus Diguncang Gempa Susulan, Sulteng Diterpa Lindu 5,4

NTT Terus Diguncang Gempa Susulan, Sulteng Diterpa Lindu 5,4

23 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.