Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Lonjakan Kewajiban Mengejutkan, Pola Fiskal Sudah Bergeser Jadi Berbasis Utang

📅 Senin, 07 Jul 2025, 01:10 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Lonjakan Kewajiban Mengejutkan, Pola Fiskal Sudah Bergeser Jadi Berbasis Utang Doc: istimewa
Ket. Menteri Keuangan, Sri Mulyani

JAKARTA - Pemerintah melalui Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati secara gamblang menyampaikan total jumlah utang atau kewajiban Pemerintah pada posisi akhir tahun 2024. 

Di depan sidang paripurna DPR RI, Menkeu mengaku total kewajiban pemerintah, yang meliputi utang jangka pendek dan utang jangka panjang mencapai 10.269 triliun rupiah atau 633 miliar dollar AS hingga akhir 2024, bukan 8.500 triliun rupiah sebagaimana yang diakui sebelumnya.

Utang pemerintah itu terdiri dari berbagai instrumen, termasuk Surat Berharga Negara (SBN) dan pinjaman bilateral serta multilateral. Meski utang terlihat besar, posisi keuangan negara jelas Menkeu tetap sehat dengan total aset mencapai 13.692,4 triliun rupiah. Dari perbandingan aset dan kewajiban tersebut, posisi ekuitas pemerintah tercatat sebesar 3.424,4 triliun rupiah.

“Ini menunjukkan pengelolaan keuangan negara tetap berjalan dengan prinsip kehati-hatian,” kata Menkeu.

Ia juga memastikan bahwa rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tetap terjaga di bawah batas aman yang ditetapkan sebesar 60 persen.

Menanggapi besarnya total kewajiban negara tersebut, pengamat ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Achmad Maruf mengatakan lonjakan utang pemerintah bukan sekedar kabar mengejutkan, tetapi merupakan sinyal kuat bahwa pola fiskal Indonesia telah bergeser menjadi berbasis utang.

“Ini bukan lagi soal apakah kita masuk jebakan utang atau tidak. Kekhawatiran soal debt trap itu sudah dibahas bertahun-tahun. Sekarang, yang lebih penting disorot adalah kenyataan bahwa kebijakan fiskal kita kini dijalankan dengan fondasi pembiayaan utang sebagai pilar utama,” kata Maruf.

Situasi itu kata Maruf jelas terlihat dari postur APBN dalam beberapa tahun terakhir disusun dengan asumsi defisit struktural yang terus berulang, lalu ditutup dengan penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) atau pinjaman lainnya. Padahal, dalam situasi ideal, fiskal negara seharusnya dikelola dengan basis penerimaan riil seperti pajak, ekspor, atau pendapatan negara bukan pajak (PNBP), bukan sekadar menambah utang tahun demi tahun.

“Data yang disampaikan pemerintah, dari angka utang yang sebelumnya disampaikan ke publik sekitar 8.500 triliun rupiah dan kini melonjak jadi 10.269 triliun rupiah, memperlihatkan kecenderungan bahwa belanja publik sudah sangat tergantung pada ketersediaan utang. Ini sudah masuk ke dalam pola,” tegasnya.

Jangan Dibandingkan Negara

Maruf menilai sangat tidak tepat jika Pemerintah membandingkan kondisi utang Indonesia dengan negara-negara maju seperti Amerika Serikat (AS), Jepang, atau negara Eropa yang juga memiliki utang sangat besar.

“Negara maju memang utangnya besar, tapi ekspornya juga besar. Mereka punya piutang internasional, mereka juga menguasai sistem keuangan global, memiliki daya tawar militer, teknologi, dan sektor jasa yang dominan. Indonesia tidak punya instrumen kekuatan sekelas itu untuk membenarkan pembiayaan utang jangka panjang,” ungkapnya.

Menurutnya, kemampuan membayar utang dan menjaga stabilitas fiskal bukan hanya soal besaran rasio utang terhadap PDB, tapi juga menyangkut struktur ekonomi dan posisi politik-ekonomi Indonesia dalam peta global.

Maruf pun menyoroti pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap efektivitas belanja pemerintah, terutama dalam memastikan bahwa setiap rupiah dari utang benar-benar menciptakan nilai tambah ekonomi.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Megapolitan
Daftar Lokasi Samsat Kelili...

Pemulihan sawah pascabencana di Aceh

1.5 jam yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Pemulihan sawah pascabencan...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.