Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Gerhana Matahari Buatan Berhasil Diciptakan

📅 Selasa, 01 Jul 2025, 07:36 WIB | Oleh:
Gerhana Matahari Buatan Berhasil Diciptakan Doc: Foto: ESA-P. Carril
Ket. Ilustrasi artistik dari dua wahana antariksa Proba-3, Occulter dan Coronograph, yang menciptakan gerhana matahari buatan di luar angkasa.

MISI luar angkasa yang dilakukan ESA berhasil menciptakan gerhana matahari buatan. Keberhasilan ini  memungkinkan para ilmuwan mempelajari korono secara untuk mengungkap angin matahari yang sering mengganggu komunikasi, jaringan listrik, mengganggu orbit satelit, dan lainnya.

Misi Proba-3 milik Badan Antariksa Eropa (European Space Agency/ESA) pada 16 Juni 2025 mengungkap citra pertamanya dari atmosfer luar Matahari korona matahari. Dua satelit misi tersebut, yang dapat terbang sebagai wahana antariksa tunggal berkat serangkaian teknologi penentuan posisi di dalamnya, telah berhasil menciptakan ‘gerhana matahari total buatan’ pertama mereka di orbit.

Citra korona yang dihasilkan menunjukkan potensi teknologi penerbangan formasi, sekaligus memberikan data ilmiah yang tak ternilai yang akan meningkatkan pemahaman tentang Matahari dan atmosfernya yang penuh teka-teki.

Dua wahana antariksa itu terbang sebagai satu kesatuan. Sebelumnya pada Maret ini, Proba-3 mencapai apa yang belum pernah dicapai misi lain sebelumnya. Dua wahana antariksanya, Coronagraph dan Occulter, terbang dengan jarak 150 meter dalam formasi sempurna selama beberapa jam tanpa kendali apa pun dari darat.

Saat sejajar, pasangan tersebut mempertahankan posisi relatif mereka hingga satu milimeter suatu prestasi luar biasa. Hal ini dimungkinkan berkat serangkaian teknologi navigasi dan penentuan posisi yang inovatif.

Menunjukkan tingkat presisi yang dicapai, kedua wahana antariksa tersebut menggunakan waktu terbang formasi mereka untuk menciptakan gerhana matahari total buatan di orbit. Posisi keduanya sejajar dengan Matahari sehingga cakram besar berukuran 1,4 meter yang dibawa oleh wahana antariksa Occulter menutupi cakram Matahari yang terang untuk wahana antariksa Coronagraph. Posisi ini menghasilkan bayangan berukuran 8 sentimeter (cm) pada instrumen optiknya bernama ASPIICS.

ASPIICS kependekan dari Association of Spacecraft for Polarimetric and Imaging Investigation of the Corona of the Sun. Alat ini dikembangkan untuk ESA oleh konsorsium industri yang dipimpin oleh Centre Spatial de Liège, Belgia.

Ketika bukaan 5 cm-nya tertutup oleh bayangan, instrumen tersebut menangkap gambar korona matahari tanpa gangguan oleh cahaya terang Matahari. Pengamatan korona sangat penting untuk mengungkap angin matahari, aliran materi yang terus-menerus dari Matahari ke luar angkasa.

Hal ini juga diperlukan untuk memahami cara kerja lontaran massa korona (CME), ledakan partikel yang dikirim oleh Matahari hampir setiap hari, terutama selama periode aktivitas tinggi. Peristiwa semacam itu dapat menciptakan aurora yang menakjubkan di langit malam, tetapi juga menimbulkan ancaman serius bagi teknologi modern. Peristiwa itu dapat mengganggu komunikasi, transmisi daya, dan sistem navigasi di Bumi secara signifikan, seperti yang terjadi pada Mei 2024.

Gambar koronal yang dihasilkan dari putaran pertama pengamatan ASPIICS menawarkan sekilas data berharga yang dapat diharapkan dari misi pembuatan gerhana ini. Misi Proba-3 dipimpin oleh ESA dan disusun oleh sebuah konsorsium yang dikelola oleh Sener dari Spanyol, diluncurkan pada 5 Desember 2024 pada peluncur PSLV-XL dari Pusat Antariksa Satish Dhawan di Sriharikota, India.

Mereka yang turut berpartisipasi lebih dari 29 perusahaan dari 14 negara. Kontribusi utama disumbangkan oleh GMV dan Airbus Defence and Space di Spanyol serta Redwire Space dan Spacebel di Belgia.

Dietmar Pilz, Direktur Teknologi, Rekayasa, dan Kualitas ESA, berkomentar beberapa teknologi yang memungkinkan Proba-3 melakukan penerbangan formasi yang tepat telah dikembangkan melalui Program Teknologi Dukungan Umum ESA, (ESA’s General Support Technology Programme) seperti halnya misi itu sendiri.

“Banyak teknologi yang memungkinkan Proba-3 melakukan penerbangan formasi yang tepat telah dikembangkan melalui Program Teknologi Dukungan Umum ESA, seperti halnya misi itu sendiri. Sangat menarik melihat gambar-gambar menakjubkan ini memvalidasi teknologi kami dalam apa yang sekarang menjadi misi penerbangan formasi presisi pertama di dunia,” ujar dia dikutip dari laman ESA.

Halo Misterius

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Ekonomi
Harga Cabai Rawit Rp84.400/...
Daerah
Bus Transjateng Akan Tambah...

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

43 menit yang lalu | Lili Lestari

Nasional
Wakil Menteri Imipas Silmy ...
Olahraga
Janice Tjen Mulus ke Peremp...
Ekonomi
Berpotensi Melemah Lanjutan...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.