Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Harga Pinang di Padang Pariaman Naik, Tembus Rp15 Ribu per Kilogram

📅 Minggu, 29 Jun 2025, 07:15 WIB | Oleh: Tim Penulis
Harga Pinang di Padang Pariaman Naik, Tembus Rp15 Ribu per Kilogram Doc: Antara Foto
Ket. Karyawan pengepul hasil pertanian di Kecamatan V Koto Timur, Kabupaten Padang Pariaman

Harga pinang di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, mengalami kenaikan sekitar Rp10 ribuan per kilogram menjadi Rp15 ribu per kilogram setelah anjlok beberapa tahun dengan harga sekitar Rp5 ribu per kilogram.

"Harga pinang naik sekitar tiga bulan ini, harga paling rendah sekarang Rp13 ribu yang tertingginya bisa Rp15 ribu per kilogram, tergantung kualitas pinang," kata pengepul komoditas tersebut Adrianto (40) di Kecamatan V Koto Timur, Sabtu (28/6).

Ia mengatakan sebelumnya pengepul hanya bisa membeli pinang di Padang Pariaman paling tinggi seharga Rp4 sampai Rp5 ribu per kilogram karena rendahnya permintaan pasar serta diduga terjadinya perang di luar negeri sehingga mengganggu jalur distribusi.

Hal tersebut, lanjutnya, terjadi sekitar dua sampai tiga tahun sehingga banyak petani tidak tertarik memanen dan menjual pinangnya karena dipastikan akan merugi. Padahal sebelumnya harga komoditas itu di daerah tersebut bisa mencapai di atas Rp20 ribuan per kilogram.

Ia menyampaikan karena harga pinang anjlok bertahan lama maka tidak jarang petani menebang batang pinang miliknya dan menggantinya dengan tanaman yang menjanjikan lainnya.

Sementara itu petani di V Koto Timur Bakhtiar (50) mengatakan dirinya menebang batang pinang di kebunnya beberapa bulan lalu karena melihat harga komoditas itu yang murah sehingga menggantinya dengan pisang.

"Pohon pinang yang saya tebang sampai sekitar seribu batang. Namun saya masih menyisakan batang pinang (untuk jaga-jaga)," ujarnya.

Petani lainnya di Kecamatan Sungai Geringging Awaludin Awe (45) mengatakan karena harga pinang saat ini sudah mulai membaik maka buah pinang di kebunnya yang beberapa tahun terakhir dibiarkan jatuh tergeletak di tanah sekarang sudah mulai dipanen kembali.

"Sekarang kami panen kembali, membelah, menjemur, membuka pinang dari kulitnya," kata dia.

Ia berharap harga pinang dapat naik kembali namun jika tidak bisa paling tidak harganya tetap bertahan karena dapat membantu perekonomian keluarga.

Terpisah, Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Padang Pariaman, Sumbar, Ismail mengatakan harga pinang naik disebabkan oleh tingginya permintaan dari negara tujuan di antaranya India dan Pakistan, sedangkan pasokan dari petani mengalami penurunan.

"Penurunan pasokan dari petani terjadi disebabkan karena sebelumnya pada tahun 2023 harga pinang anjlok sampai di angka Rp2,5 ribu per kilogram, saat itu negara tujuan dalam kondisi 'full stok' (stok banyak) dan memberikan bea pajak besar kepada eksportir," ujar dia.

Karena hal tersebut, harga pinang anjlok sehingga berimbas kepada petani. Akibatnya, lanjutnya banyak pohon komoditas itu ditebang dan lahan dialihfungsikan ke tanaman lainnya.

Selain itu, kata Ismail, penurunan pasokan pinang juga disebabkan oleh tanaman komoditas itu yang dimiliki petani umumnya sudah tua sehingga kurang produktif.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Menkeu Sebut Rupiah Rp18.000 Masih dalam Perhitungan Pemerintah

Menkeu Sebut Rupiah Rp18.000 Masih dalam Perhitungan Pemerintah

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.