Kenali Gentle Parenting, Gaya Asuh Viral yang Dibilang Terlalu Lembek
📅 Sabtu, 21 Jun 2025, 19:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: CNN
Jakarta – “Zaman dulu mah, anak nggak boleh ngelawan, nggak nurut ya kena cubit,” begitu kata banyak orang tua generasi lama yang merasa pendekatan tegas—kalau bukan keras—adalah cara terbaik mendidik anak.
Tapi zaman berubah, dan makin banyak orang tua muda yang justru memilih pendekatan berbeda: gentle parenting.
Kalau istilah ini terdengar terlalu soft dan bikin kamu langsung rolling eyes, tahan dulu.
Gentle parenting bukan berarti memanjakan anak tanpa aturan. Justru, menurut para psikolog, ini adalah cara mengasuh anak dengan penuh empati tanpa kehilangan batasan. Intinya? Tetap tegas, tapi juga hangat dan penuh pengertian.
Dr. Brian Razzino, psikolog klinis dari Virginia, bilang kalau gentle parenting itu lebih soal membekali anak dengan life skills sejak dini.
Sebaiknya Anda baca juga:
Bukan membiarkan anak lepas kendali, tapi mengajak mereka belajar mengenali dan mengelola emosi, sambil tetap diberi batasan yang jelas.
Menurut survei Pew Research Center tahun 2023, hampir separuh orang tua zaman sekarang memang ingin membesarkan anak dengan cara yang berbeda dari didikan masa kecil mereka, lebih penuh kasih, lebih terbuka, dan lebih sedikit bentakan.
Gentle parenting vs gaya lama: apa bedanya?
Dalam dunia psikologi, dikenal empat tipe utama gaya pengasuhan: neglectful (cuek), authoritarian (otoriter), permissive(terlalu membebaskan), dan authoritative (seimbang antara tegas dan hangat).
Sebaiknya Anda baca juga:
Gentle parenting sendiri sebenarnya belum diakui secara formal dalam literatur ilmiah, tapi praktiknya paling mendekati tipe authoritative.
Gaya ini mengajak orang tua untuk mengakui perasaan anak, membangun komunikasi dua arah, dan memberikan konsekuensi yang logis atas perilaku anak—bukan hukuman yang bikin trauma.
Contohnya begini: saat anak melempar makanan dari piring, orang tua otoriter mungkin langsung marah besar. Yang permisif? Mungkin cuma bilang “jangan gitu ya,” lalu lanjut makan.
Tapi orang tua gentle akan bilang, “Kamu lagi pengen main, ya? Tapi makanan harus tetap di piring. Kalau dilempar lagi, Mama akan ambil piringnya ya.” Clear boundary, tapi tetap pakai hati.
Apakah gentle parenting terlalu lembek untuk dunia yang keras?
Banyak yang skeptis, bilang anak harus “dibiasakan keras” biar siap menghadapi dunia nyata. Tapi menurut Nicole Johnson, konselor profesional, gentle parenting bukan berarti menghindarkan anak dari tanggung jawab.
Justru sebaliknya: anak diajak memahami konsekuensi dari tindakan mereka dengan cara yang bisa mereka pahami, tanpa rasa takut.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!