Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Penelitian Chimaera yang Bersejarah, Sel Manusia Tumbuh di Jantung Embrio Babi yang Berdetak

📅 Selasa, 17 Jun 2025, 07:35 WIB | Oleh:
Penelitian Chimaera yang Bersejarah, Sel Manusia Tumbuh di Jantung Embrio Babi yang Berdetak Doc: AFP/Andrew Caballero-Reynolds
Ket. Penyuntikan modifikasi genetik di Laboratorium Revivicor di Blacksburg, Virginia, Amerika Serikat.

DALAM sebuah eksperimen inovatif yang dilaporkan oleh laman Nature, para peneliti telah berhasil menumbuhkan jaringan jantung yang berdetak yang mengandung sel manusia di dalam embrio babi. Keberhasilan ini disebut merupakan tonggak penting dalam bidang penelitian chimaera manusia-hewan yang sedang berkembang.

Istilah chimaera human-animal (atau chimaera manusia-hewan) merupakan istilah yang merujuk pada makhluk atau organisme yang mengandung campuran sel dari manusia dan hewan, baik untuk tujuan ilmiah maupun hipotesis.

Embrio, yang dikembangkan melalui rekayasa genetika mutakhir dan teknik sel induk, bertahan hidup selama 21 hari, di mana jantung mungil itu mulai berdetak. Hal ini menunjukkan fungsionalitas awal dan kemungkinan jalan ke depan untuk menghasilkan organ manusia pada hewan.

Temuan tersebut dipresentasikan minggu ini pada pertemuan tahunan International Society for Stem Cell Research di Hong Kong. Apa yang disampaikan menandai contoh pertama yang diketahui dari jantung manusia yang tumbuh sebagian pada spesies lain.

Dipimpin oleh Lai Liangxue, seorang ahli biologi perkembangan di Institut Biomedik dan Kesehatan Guangzhou di bawah Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok, penelitian tersebut mencerminkan kemajuan bertahap selama bertahun-tahun dalam pengembangan organ lintas spesies.

Lai dan timnya sebelumnya telah menumbuhkan ginjal manusia tahap awal pada embrio babi, yang bertahan hidup hingga satu bulan pada induk babi pengganti. Dengan studi baru ini, para peneliti mengalihkan perhatian mereka ke jantung salah satu organ manusia yang paling kompleks dan penting.

Untuk menciptakan chimaera manusia-babi, tim pertama-tama menggunakan penyuntingan genetik untuk melumpuhkan dua gen utama yang bertanggung jawab atas perkembangan jantung babi. Kesenjangan genetik ini meninggalkan ceruk perkembangan yang dapat diisi oleh sel manusia.

Para peneliti kemudian memprogram ulang sel punca manusia untuk meningkatkan kelangsungan hidup dan potensi pertumbuhannya di dalam tubuh babi dengan memasukkan gen yang mencegah kematian sel dan mendorong proliferasi. Sel manusia yang direkayasa ini disuntikkan ke dalam embrio babi pada tahap morula fase perkembangan yang sangat awal ketika embrio hanya terdiri dari sekitar selusin sel.

Embrio yang dimodifikasi ditanamkan ke dalam babi pengganti dan dibiarkan berkembang selama tiga minggu. Setelah 21 hari, embrio diambil dan dipelajari. Hasilnya menurut Lai, jantung yang berkembang telah mencapai ukuran yang diharapkan untuk jantung manusia pada tahap embrio yang sama kira-kira seukuran ujung jari dan jantung tersebut berdetak.

Sel manusia di dalam jantung ditandai dengan biomarker fluoresen, sehingga dapat diidentifikasi saat dianalisis. Meskipun ada tanda-tanda yang menjanjikan ini, embrio tidak bertahan hidup lebih dari 21 hari.

Lai berpendapat bahwa sel manusia mungkin telah mengganggu perkembangan jantung babi secara keseluruhan, yang menyebabkan kematian embrio. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menyempurnakan proses integrasi dan memperpanjang viabilitas embrio.

Para peneliti tidak menyebutkan berapa banyak jaringan jantung yang terdiri dari sel manusia. Dalam percobaan ginjal sebelumnya, antara 40 persen dan 60 persen jaringan organ berasal dari manusia, sedangkan sisanya adalah sel babi. Proporsi yang sama atau lebih tinggi akan diperlukan untuk keberhasilan pembuatan organ manusia yang siap ditransplantasi dalam aplikasi di masa mendatang.

Namun atas hasil laporan ini skeptisisme tetap ada. Hiromitsu Nakauchi, seorang ahli biologi sel punca terkemuka di Universitas Stanford yang menghadiri presentasi tersebut, memperingatkan bahwa analisis lebih lanjut diperlukan untuk memastikan apakah jaringan dimaksudh memang berasal dari manusia.

Kontaminasi sel lintas spesies merupakan masalah yang telah diketahui dalam studi chimaera. Demikian pula, Hideki Masaki dari Institut Sains di Tokyo mencatat bahwa sel-sel manusia yang bersinar tampak terkonsentrasi di bagian-bagian jantung yang terbatas, sehingga menimbulkan pertanyaan tentang seberapa baik sel-sel tersebut terintegrasi dengan sel-sel babi.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Keren, Unika Atma Jaya Masuk Top 100 Dunia WURI 2026

1.5 jam yang lalu | Mohammad Zaki Alatas

Nasional
Keren, Unika Atma Jaya Masu...
Daerah
BPJS Kesehatan Edukasi Pold...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.