Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Malu! Angka Konsumsi Susu di Indonesia di Bawah Standar Dunia

📅 Minggu, 15 Jun 2025, 22:25 WIB | Oleh: Tim Penulis
Malu! Angka Konsumsi Susu di Indonesia di Bawah Standar Dunia Doc: ANTARA/Lintang Budiyanti Prameswari.
Ket. Seorang siswa SD mengkonsumsi susu segar hasil produksi peternak lokal dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Cimahi, Jawa Barat.

JAKARTA – Potensi konsumsi susu nasional masyarakat Indonesia cukup besar dengan jumlah penduduk yang mencapai 280 juta. Namun, saat ini konsumsi susu masih rendah, jauh dari rata rata global. Salah satu pemicu masalah kekurangan gizi.

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi menekankan arah kebijakan Indonesia tersebut saat ditemui selepas menghadiri peringatan 'Hari Susu Nusantara' di Jakarta, Minggu (15/6). Arief katakan pemerintah saat ini sedang berupaya menyeimbangkan antara pengadaan luar negeri dan produksi dalam negeri guna menyuplai kebutuhan susu Indonesia.

"Hari ini kan kita lagi campaign tentang susu. Tadi Bapak Menko Pangan sampaikan bahwa susu ini menjadi salah satu program pangan yang terus dikerjakan. Pemerintah sudah menyiapkan untuk investasi masuk buat peternakan susu sapi, pabrik susu, dan lainnya. Jadi kita berupaya mem-balance importasi dan produksi susu dalam negeri," terang Arief.

"Komitmen pemerintahan Bapak Presiden Prabowo kan swasembada pangan, artinya semuanya bersumber dari produksi dalam negeri. Nah ini yang kita upayakan supaya produksi susu dalam negeri, karena potensi pasar kita besar, penduduk Indonesia lebih 280 juta. Jadi market-nya ada di Indonesia, kalau masuk ke Indonesia, dibuat di Indonesia, kan tentunya akan lebih bagus," ungkap dia.

Adapun merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai produksi susu segar secara nasional telah mengalami eskalasi, meskipun secara perlahan. Pada 2014 tercatat produksi susu segar nasional berada di angka 800,7 ribu ton. 10 tahun kemudian di 2024, BPS memproyeksikan meningkat sekitar 0,95 persen menjadi 808,3 ribu ton

Sementara tingkat konsumsi susu per kapita di Indonesia berada di angka 16,27 kilogram (kg) per kapita per tahun pada 2020. Masih cukup jauh dari ambang batas konsumsi susu yang rendah suatu negara dari The Food and Agriculture Organization (FAO) yang menetapkan di 30 kg per kapita per tahun.

Kendati demikian, berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2024, tingkat partisipasi konsumsi susu rumah tangga Indonesia mulai memperlihatkan geliat akselarasi yang menanjak. Misalnya terhadap tingkat partisipasi konsumsi susu cair pabrik. Pada Maret 2023 berada di 8,71 persen dan meningkat pada Maret 2024 menjadi 9,60 persen.

"Peningkatan kesadaran masyarakat untuk mengonsumsi susu turut dilakukan oleh kami di Badan Pangan Nasional. Dulu kita semua mengenal 4 Sehat 5 Sempurna. Nah pemerintah saat ini punya kampanye Isi Piringku dan Badan Pangan Nasional mengemasnya dengan kampanye pola konsumsi B2SA. Beragam, Bergizi Seimbang, dan Aman," ujar Kepala NFA Arief Prasetyo Adi.

Sebaiknya Anda baca juga:

"Jadi dalam B2SA itu harus seimbang dan beragam. Kalau karbohidrat tidak mesti dari nasi, karena ada singkong, ubi, sorgum. Kalau protein ada hewani dan nabati. Nah susu salah satu sumber protein yang baik. Jadi jangan kebanyakan karbohidrat, kebanyakan gula, kebanyakan minyak. Dan tambahan satu lagi, habiskan. Jadi tidak boleh food waste," tutup Arief.

Atasi Kekurangan Gizi

Dalam sambutan pembukaan peringatan 'Hari Susu Nusantara' hari ini, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mempertegas visi Pemerintah Indonesia dalam komando Presiden Prabowo Subianto yang menaruh perhatian serius terhadap pembangunan pangan. Zulhas sebut Presiden tidak ingin sampai ada masyarakat Indonesia yang kekurangan gizi.

"Program pokok Bapak Presiden itu soal pangan. Pangan dalam artian luas. Ada karbohidrat, ada protein, tentu termasuk susu yang sangat penting. Ini tentu tidak bisa pemerintah sendiri, tapi kita mesti bersama-sama. (Bersama) swasta dan masyarakat," paparnya.

"Presiden tidak ingin ada orang Indonesia yang kurang gizi. Tentu akhirnya tidak cerdas, tidak kuat di era persaingan yang begitu luas sekarang ini. Maka program pokok itu pangan. Kalau pangan sudah, itu (artinya) kita sudah meletakkan fondasi yang kokoh, yang kuat, karena tidak ada negara yang bisa maju, hebat, kalau pangannya kurang," sambungnya.

Menko Zulhas pun memberi contoh saat ini masyarakat di beberapa kota besar di Asia, seperti di Seoul atau Beijing. Menurutnya, tinggi badan masyarakat di sana sudah mulai menyamai tinggi masyarakat Eropa. Faktornya tidak lain tidak bukan adalah berasal dari konsumsi pangan yang baik oleh masyarakatnya. Itu yang sedang dikejar Indonesia saat ini.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Nasional
Tanggapan Istana Usai Wamen...
Nasional
Wakil Menteri Imipas Silmy ...
Olahraga
Janice Tjen Mulus ke Peremp...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.