Kota Tua yang Menolak Mati
📅 Jumat, 13 Jun 2025, 07:18 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: Foto: Domain publik
SKADARLIJA adalah jantung budaya Beograd yang berdetak dalam irama puisi, musik rakyat, dan aroma rakija minuman arak lokal. Di sanalah warisan masa lalu tetap hidup bukan di museum mati, tapi di meja makan, di dentingan gelas, dan di tawa yang masih terdengar setiap malam.
Nama Skadarlija berasal dari kota Skadar dalam bahasa Serbia karena banyak pendatang dari Skadar menetap di wilayah tersebut ketika masih bagian dari Kekaisaran Ottoman. Pada awal kedatangannya mereka membuat kawasan ini menjadi permukiman yang kumuh.
Pada pertengahan abad ke-19, kawasan Skadarlija awalnya adalah permukiman miskin di luar tembok kota Beograd. Penduduknya awalnya adalah pekerja kasar, pengrajin, dan imigran dari wilayah Balkan, terutama dari daerah Skadar.
Karena letaknya dekat dengan pusat kota dan pelabuhan sungai, wilayah ini mulai berkembang secara ekonomi. Seiring waktu, terutama tahun 1860-an hingga 1890-an, seniman, penyair, dan musisi mulai bermukim di Skadarlija karena biaya hidup yang murah dan lokasinya yang dekat dengan teater dan pusat kota.
Salah satu figur penting adalah Dura Jaksic, penyair, pelukis, dan ikon sastra Serbia yang tinggal di sana. Rumahnya kini menjadi museum dan simbol warisan budaya Skadarlija. Banyak kafana (kedai kopi dan restoran tradisional) muncul, menjadi tempat nongkrong kaum intelektual.
Sebaiknya Anda baca juga:
Para intelektual itu adalah Tri Sesira (Tiga Topi), Dva Jelena (Dua Rusa), dan Ima Dana. Oleh mereka tempat-tempat ini bukan hanya untuk makan dan minum, tapi juga untuk diskusi filsafat, pembacaan puisi, dan pertunjukan musik langsung.
Skadarlija mencapai puncak kejayaannya pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, dikenal sebagai pusat budaya bohemian Serbia. Banyak tokoh terkenal dari seni dan sastra Serbia sering terlihat di sana, seperti, Branislav Nusic (dramawan), Tin Ujevic (penyair), Laza Kostic dan Jovan Jovanovic Zmaj.
Kehidupan malam dan budaya minum rakija berkembang seiring dengan pertumbuhan semangat sastra dan musik di Skadarlija.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ketika era negara Yugoslavia yang berlangsung dari 1945–1990, pemerintah sosialis Yugoslavia di bawah Josip Broz Tito melakukan pelestarian kawasan Skadarlija. Pada tahun 1960-an, Skadarlija dipugar, mempertahankan citra romantis abad ke-19.
Dirancang ulang agar menyerupai Montmartre di Paris sebagai “jantung budaya rakyat,” konsep ini menarik banyak tamu kenegaraan. Presiden Tito pernah mengajak beberapa tokoh dunia makan malam di sana seperti Ratu Elizabeth II, George H. W. Bush, Willy Brandt, dan Jimmy Carter.
Sekarang Skadarlija bukan sekadar kawasan kota tua, melainkan simbol perlawanan budaya terhadap modernitas yang tanpa jiwa. Ia adalah tempat di mana puisi, rakija, dan suara musik tamburica tetap hidup seperti seratus tahun yang lalu. hay
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!