Idul Adha 2025: Pentingnya Mengendalikan Konsumsi dan Berbagi Secara Berkelanjutan
📅 Kamis, 05 Jun 2025, 15:00 WIB | Oleh: Tim PenulisUntuk menjaga kebersihan dan mencegah bocor, bagian dalam besek dapat ditambah lapisan daun pisang atau daun jati, yang juga mudah didapat dan ramah lingkungan. Penggunaan besek menghidupkan kembali tradisi lokal sekaligus mengurangi ketergantungan pada plastik sekali pakai.
Selain itu, untuk pembagian daging dalam skala kecil atau komunitas yang lebih terbatas, warga dapat diimbau membawa wadah sendiri dari rumah. Membawa wadah sendiri sudah menjadi tren dalam berbagai aktivitas ramah lingkungan dan mudah diterapkan dalam pembagian daging kurban.
Hal-hal kecil seperti ini bisa jadi lahan edukasi bagi masyarakat bahwa berkurban tidak hanya soal ritual, tetapi juga bentuk tanggung jawab sosial dan lingkungan.
Menghidupkan kembali semangat kurban yang sesungguhnya
Sebaiknya Anda baca juga:
Salah satu ayat dalam Al-Qur'an menyebutkan bahwa “Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu”.
Artinya, yang utama dalam kurban adalah niat dan ketakwaan, bukan besarnya hewan atau banyaknya daging yang dibagikan. Kurban adalah tentang keikhlasan melepaskan sesuatu yang dicintai demi Allah dan sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama manusia.
Kurban juga mengandung pesan sosial yang kuat. Daging hewan yang disembelih bukan untuk dinikmati sendiri sepenuhnya, tetapi untuk dibagikan kepada mereka yang berhak: keluarga, kerabat, tetangga, dan terutama fakir miskin.
Sebaiknya Anda baca juga:
Daripada larut dalam perayaan hari raya semata, ada baiknya semua pihak baik dari masyarakat dan pemerintah menjadikan momen Iduladha sebagai titik mula kebiasaan berbagi.
Contoh inisiasi yang patut mendapat apresiasi adalah Dompet Dhuafa yang memiliki program Program Tebar Hewan Kurban. Model kurban berkelanjutan ini bertujuan untuk memenuhi suplai hewan kurban ke rural area, seperti daerah pinggiran, kawasan pedalaman, daerah rawan pangan, komunitas minoritas, hingga daerah-daerah pascabencana..
Program ini mampu mendistribusikan kurban ke lebih dari 1.500 desa dengan kategori tingkat kemiskinan di atas rata-rata di 38 provinsi. Disamping distribusi, program ini juga memanfaatkan instrumen keuangan islami seperti zakat, infak, sedekah, dan wakaf untuk membina peternakan lokal kecil di berbagai daerah di Indonesia agar lebih produktif, dan bersaing melalui pelatihan manajemen ternak, peningkatan standar kesehatan hewan, dan strategi pemasaran.
Begitu juga yang dilakukan oleh platform penggalangan dana dan donasi Kitabisa. Platform ini bisa memudahkan para darmawan untuk berkurban hingga bisa memilih destinasi alokasi kurban yang dihendaki. Bahkan, ada program cicilan hewan kurban. Alhasil, sepanjang tahun lalu, lebih dari 8.900 hewan kurban yang dibagi menjadi 300 ribu paket yang disalurkan kepada yang membutuhkan di seluruh Nusantara.
Indonesia pun masih menghadapi persoalan malnutrisi karena pola makan yang tidak seimbang. Konsumsi daging sapi Indonesia juga hanya rata-rata 2,4 kg/orang/tahun. Ini merupakan peringkat kedua terendah di antara negara-negara anggota OECD (Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan).
Lebih lagi, angka rata-rata ini berarti ada sebagian penduduk yang mengkonsumsi daging sapi lebih sedikit dan ada sebagian penduduk yang mengkonsumsi lebih banyak dari angka rata-rata tersebut.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!