Silaturahmi Melintasi Lereng Merapi: Ganjar dan Kagama Gelanggang Salurkan 23 Hewan Kurban untuk Warga Terpencil
📅 Rabu, 04 Jun 2025, 20:10 WIB | Oleh: Eko S
Doc: Dok. Istimewa
Yogyakarta – Di tengah gegap gempita perayaan Iduladha di kota-kota besar, kisah berbeda hadir dari lereng Gunung Merapi. Komunitas alumni Universitas Gadjah Mada yang tergabung dalam Kagama Gelanggang kembali menegaskan komitmen sosial mereka lewat program “Gelanggang Berqurban” yang telah rutin berjalan sejak 2017.
Tahun ini, sebanyak 23 ekor kambing diserahkan kepada warga dari empat kabupaten yang berada di sekitar Merapi: Sleman, Magelang, Klaten, dan Boyolali. Fokus distribusi ditujukan pada dusun-dusun di titik tertinggi lereng, tempat di mana akses dan bantuan kerap terbatas.
“Kalau di kota, satu masjid bisa menyembelih puluhan kambing. Tapi di lereng Merapi, ada dusun yang tidak punya satu pun hewan kurban. Ini tentang keadilan rasa,” ujar Rahman Hidajat, penanggung jawab kegiatan yang akrab disapa Cak Man, dalam seremoni di pelataran GOR Pancasila UGM, Rabu (4/6).
Bagi Kagama Gelanggang, kegiatan ini bukan sekadar amal tahunan. Ia adalah jembatan silaturahmi yang terjalin melalui semangat kekeluargaan dan rasa hormat terhadap warga yang selama ini telah memberi begitu banyak pelajaran hidup. Dukungan pun datang dari nama-nama besar seperti Ganjar Pranowo dan Ketua Dewan Guru Besar UGM Prof. Baequni, yang turut menyumbangkan hewan kurban.
Tak hanya seremonial, proses distribusi dilakukan dengan survei mendalam agar tepat sasaran. Ramadhan Zakian (34), warga Klaten yang terlibat sejak awal program ini, menyebut banyak dusun terpencil yang sangat bergantung pada bantuan seperti ini. “Kurban ini bukan hanya daging, tapi tentang rasa dilibatkan dalam perayaan besar. Itu menguatkan mental warga,” ujarnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ranto, perwakilan warga lereng, menyambut penuh rasa syukur. “Ini bukan soal bantuan semata. Ini soal bagaimana Kagama Gelanggang terus hadir, mengingat, dan menguatkan kami,” ucapnya haru.
Dengan semangat yang tulus dan konsisten, Kagama Gelanggang membuktikan bahwa makna kurban bukan hanya tentang penyembelihan hewan, melainkan tentang merawat ikatan kemanusiaan—sebuah narasi yang barangkali kini makin penting di tengah masyarakat yang terus berubah.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!