Arah Baru QRIS Setelah Disenggol Trump
📅 Sabtu, 24 Mei 2025, 13:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: The Conversation
Farhan Mutaqin, University of Edinburgh dan Lukas Andri Surya Singarimbun, University of Edinburgh
Seperti petir di langit cerah, tiba-tiba Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengusik QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard). Trump menuding sistem pembayaran digital Indonesia yang mensinkronkan pembayaran uang elektronik, dompet digital, hingga mobile banking ke dalam satu sistem berstandar nasional ini tidak adil.
Dalam National Trade Estimate Report 2025, Kantor Perwakilan Dagang AS (USTR) menilai QRIS sebagai hambatan perdagangan. Laporan itu menyebut penerapan QRIS menutup ruang bagi pemangku kepentingan internasional—terutama perusahaan AS—sehingga menciptakan persaingan yang tidak seimbang di pasar pembayaran digital nasional.
Selain QRIS, USTR juga menyebut Gerbang Pembayaran Nasional (GPN) sebagai hambatan serupa dalam negosiasi tarif. Standar pembayaran nasional itu dianggap kurang transparan, menerapkan kewajiban pemrosesan data di dalam negeri yang bersifat diskriminatif, dan membatasi kepemilikan asing.
Sebaiknya Anda baca juga:
Bagi pasar domestik, QRIS memudahkan pelaku usaha kecil dan masyarakat menengah ke bawah mengakses fasilitas pembayaran modern menutup celah yang tidak bisa dihadirkan oleh Visa dan Mastercard.
Dengan proses yang lebih sederhana dan biaya jauh lebih rendah, QRIS menjadi solusi nyata bagi UMKM. Alhasil, sepanjang 2024, lebih dari 30 juta UMKM dan pedagang di seluruh Indonesia sudah bertransaksi lewat QRIS.
Seberapa besar QRIS?
Sebaiknya Anda baca juga:
Seiring kepopulerannya, nilai transaksi penggunaan QRIS kian meroket. Sepanjang 2024 transaksi QRIS mencapai Rp242 triliun. Angka ini meningkat hingga 188% dibanding tahun sebelumnya. Sedangkan volumenya menembus 2,2 miliar transaksi (naik 190% yoy).
Bahkan, laporan terbaru dari Bank Indonesia mencatat akselerasi pertumbuhan pada kuartal I 2025 sudah ada 2,6 miliar dengan nilai transaksi mencapai Rp262 triliun. Lonjakan ini dipicu oleh adopsi digital yang makin luas dan faktor kenyamanan pengguna, sehingga ikut mendorong inklusi keuangan dan menyokong pertumbuhan serta produktivitas ekonomi Indonesia.
Lantas, mengapa QRIS makin diminati?
Menurut Statista, survei Populix 2024 menunjukkan alasan utama orang Indonesia memakai QRIS adalah kemudahan penggunaan (49%) dan kecepatan transaksi (42%). Faktor promo (33%) serta kebiasaan tidak membawa uang tunai (28%) ikut menambah daya tariknya. Cakupan gerai yang luas (23%) dan persepsi keamanan (22%) juga menjadi faktor penyebab QRIS semakin diminati. Kepraktisan dan kebiasaan digital yang berkembang inilah yang menjadi pendorong utama adopsi QRIS.
Dari sisi pedagang, QRIS memiliki keunggulan dibanding pembayaran kartu. Sistem kartu membutuhkan mesin EDC yang mahal—sekitar Rp3–5 juta per alat.
Sedangkan transaksi QRIS bisa dilakukan hanya dengan satu kode QR cetak, tanpa perlu menyewa peralatan tambahan. Biaya transaksi QRIS juga jauh lebih rendah di kisaran 0,3% dari transaksi (bahkan 0% untuk pedagang mikro), dibanding 2–3% pada kartu. Selain itu, QRIS kompatibel dengan semua e-wallet Indonesia dan sebagian besar e-wallet ASEAN.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!