Djokovic Bertarung Melawan Usia dan Penurunan Performa Demi Rekor Grand Slam ke-25
📅 Jumat, 23 Mei 2025, 09:00 WIB | Oleh: Benny Mudesta Putra
Doc: AFP
PARIS – Novak Djokovic kembali menapaki Roland Garros, membawa misi mengejar gelar Grand Slam ke-25 dan kemenangan ke-100 dalam karir ATP-nya. Namun, di usia 38 tahun dan dengan performa yang kian labil, ambisinya kali ini dibayangi banyak keraguan.
Sejak menaklukkan Carlos Alcaraz untuk merebut emas Olimpiade di Paris tahun lalu, Djokovic belum lagi menunjukkan dominasinya. Kedatangannya ke Prancis kali ini juga dibarengi kabar perpisahan dengan mantan rival yang sempat menjadi pelatihnya, Andy Murray.
“Saya tahu apa yang dibutuhkan untuk menjadi juara Grand Slam,” ujar Djokovic jelang turnamen pemanasan di Jenewa. “Tapi kini semuanya tak lagi semudah sepuluh tahun lalu. Banyak hal telah berubah dalam hidupku—dan jujur saja, sebagian besar untuk kebaikan.”
Djokovic masih memperlihatkan kilasan kehebatan, seperti saat menumbangkan Alcaraz di perempat final Australia Open dan melaju ke final Miami Masters. Namun, kekalahan dari remaja Jakub Mensik di laga puncak Miami seolah menjadi awal kemunduran yang nyata.
Ia tersingkir lebih awal di Monte Carlo dan Madrid, masing-masing dikalahkan oleh Alejandro Tabilo dan Matteo Arnaldi—dua pemain yang bahkan tak masuk 30 besar dunia. Musim ini, Djokovic telah mencatat enam kekalahan dari petenis luar 30 besar, angka yang tak biasa untuk sang legenda.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Sekarang saya hanya mencoba memenangkan satu atau dua pertandingan. Tak lagi berpikir bisa melangkah jauh,” ungkap Djokovic usai tumbang di Madrid. “Ini benar-benar perasaan yang asing setelah 20 tahun karir profesional.”
Ia juga mengakui bahwa secara mental, kondisi ini menjadi ujian berat. “Saya harus menghadapi sensasi baru di lapangan: gugup, stres, dan semuanya terasa lebih menantang dari sebelumnya.”
Djokovic kini menjadi satu-satunya anggota "Big Three" yang masih aktif setelah Roger Federer dan Rafael Nadal memilih pensiun. Namun sejak September lalu, posisinya di luar tiga besar dunia mencerminkan realitas baru yang tengah dia hadapi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sejak menyamai rekor 24 gelar Grand Slam milik Margaret Court di US Open tahun lalu, Djokovic gagal memanfaatkan lima peluang berikutnya untuk berdiri sendiri sebagai pemilik rekor terbanyak. Paling mendekati, tentu saja, kekalahannya dari Alcaraz di final Wimbledon.
Masalah fisik turut menghambat. Cedera memaksanya mundur dari perempat final Roland Garros tahun lalu dan menyerah di semifinal Australia Open awal tahun ini melawan Alexander Zverev.
Dia pun melewatkan Italia Open—yang akhirnya dimenangkan Alcaraz—dan memilih turnamen kecil di Jenewa sebagai ajang pemanasan terakhir menuju Paris.
Dengan Jannik Sinner dan Carlos Alcaraz tampil sebagai favorit utama, Djokovic datang ke Roland Garros bukan sebagai unggulan teratas. Dua kekalahan di dua pertandingan tanah liat musim ini semakin mengaburkan kans juara sang veteran asal Serbia.
Namun, sejarah menunjukkan bahwa Djokovic sering kali bangkit justru saat dirinya diragukan. Contoh paling nyata terjadi pada tahun 2018, ketika dia kalah mengejutkan dari Marco Cecchinato di perempat final Roland Garros akibat cedera siku. Banyak yang memprediksi karirnya akan meredup, namun sebulan kemudian ia justru menjuarai Wimbledon dan kembali menduduki peringkat satu dunia.
Kini, Djokovic berharap kisah kebangkitan itu bisa terulang. “Saya masih merasa punya permainan yang cukup untuk bersaing memperebutkan gelar Grand Slam,” tegasnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!