Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Thalasemia Minor Tak Perlu Pantang Makanan, Ini Penjelasannya

📅 Kamis, 22 Mei 2025, 17:40 WIB | Oleh: Tim Penulis
Thalasemia Minor Tak Perlu Pantang Makanan, Ini Penjelasannya Doc: Antara
Ket. Petugas kesehatan sedang melakukan pemeriksaan pasien thalasemia

Jakarta - Konsultan Hemato Onkologi Anak FKUI-RSCM dr. Ludi Dhyani Rahmartani, Sp.A (K) mengatakan, pasien dengan thalasemia minor tidak memiliki pantangan makanan karena tidak membutuhkan transfusi darah secara rutin dalam kondisi normal.

“Tidak ada pantangan karena tidak butuh transfusi darah (dalam kondisi normal),” katanya dalam webinar yang dipantau dari Jakarta, Kamis (22/5).

Ia melanjutkan, dengan demikian pasien dengan thalasemia minor dapat mengonsumsi makanan dengan kandungan zat besi dan tak perlu khawatir kelebihan zat besi.

Sementara untuk pasien dengan thalasemia mayor yang membutuhkan transfusi darah, pada proses transfusi akan mengalami penumpukan zat besi sehingga sebaiknya menghindari makanan yang tinggi zat besi seperti daging merah dan olahan serupa dari bahan tersebut.

“Kalau sering transfusi akan banyak zat besi yang masuk ke tubuh thalasemia mayor, karena setiap transfusi darah setiap miligram nya mengandung zat besi, misalnya transfusi 200 ml ya kita 200mg zat besinya 200 mg, padahal kita hanya bisa mengeluarkan nggak sampai 5mg per harinya,” katanya.

Dengan demikian pasien thalasemia mayor harus menghindari makanan dengan kandungan zat besi tinggi misal, daging merah seperti bakso, rendang, empal dan lainnya.

“Jangan sampai zat besi dikeluarkan lewat obat, tapi kita makan makanan tinggi zat besi,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa thalasemia merupakan penyakit genetik atau bawaan sehingga pengobatan seumur hidup bagi pasien dengan kondisi berat harus terus dilakukan dalam hal ini thalasemia mayor.

Pasalnya dalam kondisi ini, pasien tidak dapat memproduksi sendiri hemoglobin yang cukup untuk tubuh sehingga membutuhkan transfusi darah.

Adapun gejala thalasemia mayor dapat diketahui pada anak saat usia 2 tahun atau di bawahnya, gejala yang dialami meliput anemia parah, pucat, gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak hingga perut membesar.

Ia pun menyarankan bagi masyarakat secara umum termasuk pasangan yang akan menikah untuk dapat melakukan skrinning awal thalasemia untuk mencegah penurunan kelainan genetik pada calon anak.

Pemahaman mengenai thalasemia oleh tenaga medis juga diharapkan semakin meningkat sehingga dapat berperan serta dalam mengedukasi masyarakat Indonesia secara luas.

Dokter Ludi juga berharap ketersediaan obat dan akses darah bagi pasien thalasemia dapat lebih mudah pada masa mendatang dan pengobatan bagi pasien thalasemia dapat berkembang dengan baik di Indonesia.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Luar Negeri
Korsel Usulkan Dialog Milit...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.