Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kementerian BUMN Siapkan Hapus Tagih Utang Istaka Karya ke BUMN Vendor

📅 Rabu, 07 Mei 2025, 10:15 WIB | Oleh:
Kementerian BUMN Siapkan Hapus Tagih Utang Istaka Karya ke BUMN Vendor Doc: IDNTimes/yds
Ket. Istaka Karya diketahui memiliki total kewajiban kepada kreditur sebesar Rp 786 miliar, dengan jumlah signifikan, yaitu Rp 434,1 miliar.

JAKARTA – Proses hapus tagih ke PT Istaka Karya (Persero) diharapkan dapat memberikan kejelasan pembukuan bagi BUMN vendor dan menjadi langkah final dalam penyelesaian kewajiban utangnya.

Pemerintah melalui Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tengah menyiapkan langkah konkret untuk menyelesaikan kewajiban utang Istaka Karya, BUMN karya yang telah dibubarkan, kepada sejumlah BUMN vendornya.

Solusi yang ditempuh adalah melalui mekanisme hapus buku atau hapus tagih piutang.

Wakil Menteri BUMN, Kartika Wirjoatmodjo, menjelaskan bahwa proses ini memerlukan dasar hukum dan persetujuan formal. "Kami akan menyiapkan surat internal kepada Presiden Prabowo Subianto untuk mendapat kriteria hapus tagih," ujar Kartika Wirjoatmodjo, yang akrab disapa Tiko, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (6/5) kemarin

Kriteria hapus tagih dari Presiden nantinya akan menjadi acuan bagi masing-masing BUMN yang memiliki piutang untuk menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) guna menyetujui proses penghapusan piutang tersebut dari pembukuan mereka.

Istaka Karya diketahui memiliki total kewajiban kepada kreditur sebesar Rp 786 miliar, dengan jumlah signifikan, yaitu Rp 434,1 miliar, merupakan kewajiban kepada kreditur preferen dan separatis yang mayoritas merupakan BUMN atau afiliasinya.

BUMN yang memiliki piutang dari Istaka Karya antara lain PT Brantas Abipraya (Persero), PT Waskita Karya (Persero) Tbk, Bank Syariah Indonesia (BSI), dan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk.

Ekonom senior dari Institute for Development of Economics and Finance, Bhima Yudhistira, menilai bahwa skema hapus tagih ini merupakan solusi yang realistis dalam kasus BUMN yang sudah dilikuidasi.

"Ketika aset BUMN yang dibubarkan tidak mencukupi, piutang di BUMN kreditur memang harus dihapusbukukan. Ini adalah proses akuntansi untuk membereskan pembukuan di BUMN yang terdampak," kata Bhima. Menurutnya, persetujuan dari pemegang saham (pemerintah dalam hal ini) via RUPS dan kriteria umum presiden akan memberikan dasar hukum yang kuat untuk proses tersebut.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta

Pemulihan sawah pascabencana di Aceh

31 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Pemulihan sawah pascabencan...
Nasional
Unjuk rasa mahasiswa dan ma...
Daerah
Peluncuran bus listrik proy...

Pembukaan Festival Budaya Kerinci 2026

41 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Pembukaan Festival Budaya K...
Megapolitan
Aksi desak evaluasi perdaga...

Peremajaan lahan perkebunan kelapa

50 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Peremajaan lahan perkebunan...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.