Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

PBB: Pembangunan Alami Perlambatan yang 'Mengganggu' pada Tahun 2024

📅 Selasa, 06 Mei 2025, 12:20 WIB | Oleh:
PBB: Pembangunan Alami Perlambatan yang 'Mengganggu' pada Tahun 2024 Doc: AFP
Ket. Logo PBB di Markas PBB di New York

PBB - Umat manusia mencatat perlambatan pembangunan yang tidak terduga dan "mengganggu" pada tahun 2024 saat pemulihan pascapandemi global mulai kehilangan tenaga, jauh sebelum Presiden Donald Trump memangkas bantuan internasionalnya, PBB memperingatkan pada Selasa (6/5).

Dunia telah pulih dari goncangan pandemi Covid-19 pada tahun 2023, sebagaimana diukur berdasarkan Indeks Pembangunan Manusia (HDI) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang memetakan standar hidup, kesehatan, dan pendidikan.

Namun, pemulihan itu tampaknya mulai kehilangan momentum, menurut laporan tahunan Program Pembangunan PBB yang dirilis Selasa.

Jika perlambatan yang "mengganggu" itu menjadi kenormalan baru, pencapaian tingkat pembangunan manusia yang pernah diharapkan pada tahun 2030 "bisa tertunda beberapa dekade -- membuat dunia kita kurang aman, lebih terpecah, dan lebih rentan terhadap guncangan ekonomi dan ekologi," demikian peringatan kepala UNDP Achim Steiner. 

Pemotongan drastis bantuan internasional yang diumumkan baru-baru ini oleh beberapa negara - terutama Amerika Serikat, di mana Trump telah memangkas program dan membubarkan USAID,  akan memperburuk masalah ini, kata Steiner kepada AFP dalam sebuah wawancara. 

Jika negara-negara kaya berhenti mendanai pembangunan, "ini pada akhirnya akan berdampak pada ekonomi, masyarakat, dan ya, saya pikir hal ini juga akan tercatat mungkin satu atau dua tahun kemudian dalam Indeks Pembangunan Manusia, harapan hidup yang lebih rendah, pendapatan yang menurun, lebih banyak konflik," kata Steiner.

Para ahli UNDP belum yakin mengenai penyebab mendasar dari perlambatan yang diamati pada tahun 2024.

Namun mereka telah mengidentifikasi salah satu pendorongnya adalah melambatnya kemajuan dalam harapan hidup, mungkin terkait dengan efek samping Covid, atau peperangan yang semakin banyak terjadi di seluruh dunia.

Ada secercah harapan: kecerdasan buatan dapat menciptakan kondisi untuk memulai pembangunan, saran UNDP. 

AI "mungkin merupakan poros potensial terbesar dalam menempatkan perkembangan ekonomi perorangan, tetapi juga mungkin ekonomi orang miskin, orang kaya, pada lintasan yang berbeda. AI akan mengubah hampir setiap aspek kehidupan kita," kata Steiner.

Laporan itu menekankan bahwa hal itu akan tergantung pada bagaimana orang menggunakan teknologi tersebut. 

Ada risikonya. Akses ke AI di negara miskin tidak sama dengan di negara kaya, dan bias budaya dapat mempengaruhi cara perangkat tersebut dikembangkan, katanya. 

Namun, "kita dapat merancang untuk mengurangi risiko tersebut," kata Steiner, seraya menambahkan bahwa hal itu seharusnya tidak menjadi hambatan dalam penggunaan AI untuk penelitian medis, misalnya.

"Masa depan ada di tangan kita," kata laporan UNDP. 

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Advertisement
Kalah dari Persija, Pelatih Persib Enggan Salahkan Satu-Dua Pemain

Kalah dari Persija, Pelatih Persib Enggan Salahkan Satu-Dua Pemain

12 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.