Hindari Demensia! Jenis Tidur Ini Penting untuk Kesehatan Otak
📅 Minggu, 04 Mei 2025, 12:00 WIB | Oleh: Lili Lestari
Doc: Newsinhealth.com
Tidur malam yang baik bukan hanya tentang jumlah jam tidur yang Anda habiskan. Tidur yang berkualitas, yang membuat Anda merasa segar dan siap untuk menjalani hari, sangat penting untuk otak yang sehat.
Orang dengan gangguan tidur, seperti insomnia atau sleep apnea, memiliki risiko lebih tinggi terkena demensia dibandingkan mereka yang tidak memiliki masalah tidur. Kurang tidur juga dapat membahayakan otak dengan cara lain.
Sebuah studi yang dilaporkan New York Times menemukan bahwa orang berusia 30-an dan 40-an dengan gangguan tidur berat (seperti sering terbangun atau bergerak) dua hingga tiga kali lebih mungkin mengalami penurunan fungsi eksekutif, daya ingat kerja, dan kecepatan pemrosesan sekitar satu dekade kemudian.
Para ilmuwan berpendapat bahwa tidur lelap dan tidur dengan gerakan mata cepat (rapid eye movement atau tidur REM) sangat berpengaruh terhadap kesehatan otak dan risiko demensia.
Sebuah studi yang diterbitkan bulan lalu mengenai orang-orang dengan kekurangan tidur lelap dan tidur REM menemukan bahwa otak subjek menunjukkan tanda-tanda atrofi dalam pemindaian MRI 13 hingga 17 tahun setelah kekurangan tersebut diamati; atrofi tersebut tampak serupa dengan apa yang Anda temukan pada tahap awal penyakit Alzheimer.
Sebaiknya Anda baca juga:
Saat Anda tidur, otak terus-menerus mengalami empat fase berbeda: Dua tahap tidur ringan, saat tubuh rileks dan detak jantung serta suhu tubuh menurun; tidur lelap atau tidur gelombang lambat, saat aktivitas otak melambat; dan REM, saat Anda biasanya bermimpi.
Otak umumnya membutuhkan waktu sekitar 90 menit untuk melalui keempat tahap tersebut dan kemudian memulai kembali prosesnya.
Tidur nyenyak dan REM membantu otak "menyembuhkan dirinya sendiri" dari kelelahan dan stres serta mengonsolidasikan ingatan, kata Matthew Pase, seorang profesor madya di School of Psychological Sciences di Monash University di Melbourne, Australia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dalam tidur nyenyak, otak mengatur metabolisme dan hormon; ia juga bertindak sebagai "pembilas" bagi otak, membersihkan kotoran. REM adalah saat otak memproses emosi dan informasi baru yang Anda peroleh saat terjaga.
Menurut para ilmuwan, kedua fase tersebut mempengaruhi risiko demensia dengan cara yang berbeda.
Sebagai bagian dari proses pembilasan saat tidur nyenyak, otak mengeluarkan protein amiloid yang merupakan ciri khas Alzheimer. Tidur nyenyak yang terganggu selama bertahun-tahun dan pembilasan yang tidak tuntas – yang dikenal sebagai kegagalan glimfatik– dapat mempercepat timbulnya demensia, kata Dr. Maiken Nedergaard, seorang profesor neurologi di University of Rochester Medical Center yang meneliti sistem glimfatik.
Para ilmuwan kurang memahami tentang bagaimana REM dikaitkan dengan risiko demensia, kata Dr. Roneil Malkani, seorang profesor madya kedokteran tidur di Sekolah Kedokteran Feinberg Universitas Northwestern.
Sebuah studi tahun 2017 yang melibatkan lebih dari 300 orang berusia di atas 60 tahun menemukan bahwa durasi tidur REM malam yang lebih pendek, dan waktu yang lebih lama untuk mencapai fase REM dalam setiap siklus tidur, merupakan prediktor demensia di kemudian hari.
Hal itu bisa jadi karena REM "sangat penting" untuk menyimpan dan memproses memori, dan hilangnya kapasitas tersebut melemahkan pertahanan otak terhadap penurunan kognitif dan dapat mempercepat atrofi di bagian otak yang tidak digunakan, kata Dr. Pase, yang turut menulis studi tersebut.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!