Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Demam ‘Thrifting’ di Kalangan Gen Z: Sekadar Tren atau Benar-benar Sadar Lingkungan?

📅 Sabtu, 03 Mei 2025, 13:15 WIB | Oleh: Tim Penulis

Meski demikian, ketiga faktor tersebut belum signifikan dalam memengaruhi keputusan akhir saat membeli pakaian. Sebab, keputusan ini sering kali dipengaruhi oleh harga, ketersediaan produk, dan tren mode terkini.

Banyak responden mengaku tetap memilih produk fast fashion karena lebih mudah diakses dan sesuai dengan gaya mereka. Selain itu, tekanan sosial untuk tampil modis di media sosial juga memperkuat keputusan ini, meskipun bertentangan dengan nilai-nilai keberlanjutan yang mereka pahami.

Hasil survei dan wawancara kami menunjukkan bahwa sebagian besar responden menyadari dampak negatif industri fast fashion terhadap lingkungan. Namun, hanya sebagian kecil dari mereka yang benar-benar secara konsisten menghindari pembelian merek-merek fast fashion.

Seorang narasumber, Adinda (22 tahun), mengungkapkan bahwa,

“Saya tahu bahwa ‘fast fashion’ tidak ramah lingkungan, tetapi sulit mencari alternatif yang harganya terjangkau dan tetap ‘stylish’.”

Sementara itu, beberapa responden lain justru melihat thrifting sebagai solusi yang menarik, baik dari sisi ekonomi maupun keberlanjutan. Rafi (24 tahun) mengatakan,

“Saya mulai ‘thrifting’ karena lebih murah, tetapi lama-lama saya sadar bahwa ini juga cara untuk mengurangi limbah pakaian.”

Menariknya, hasil wawancara mendalam menunjukkan bahwa meskipun thrifting dianggap sebagai pilihan sadar dalam berbelanja, banyak responden masih terbawa pola konsumsi impulsif—membeli barang karena tergoda, bukan karena kebutuhan.

Ini seperti yang disampaikan Dina (21 tahun),

“Saya sering belanja ‘thrift’ karena harganya murah, tapi kadang saya beli terlalu banyak hanya karena barangnya lucu. Padahal, saya belum tentu memakainya.”

Artinya, meskipun thrifting dapat menjadi alternatif konsumsi yang ramah lingkungan, aktivitas ini belum dapat sepenuhnya lepas dari tantangan perilaku konsumtif.

Ketika kebiasaan membeli barang secara impulsif tetap terjadi—bahkan dalam konsep ‘thrifting'—manfaat lingkungan yang diharapkan dapat berkurang atau bahkan tertutupi oleh pola konsumsi yang berlebihan.

Konsumsi fesyen yang bertanggung jawab

Meski thrifting semakin populer, perubahan nyata menuju konsumsi fesyen yang berkelanjutan masih menghadapi banyak tantangan. Penting bagi Gen Z untuk tidak sekadar melihat thrifting sebagai tren estetik saja tetapi juga sebagai langkah nyata mengurangi dampak lingkungan. Ini tentu saja membutuhkan edukasi yang berkelanjutan dan kampanye yang kuat.

Pengusaha fesyen—baik merek internasional maupun lokal—perlu lebih transparan dan bertanggung jawab dalam menjalankan bisnisnya, mulai dari pemilihan bahan hingga proses produksi. Menawarkan pakaian dari material daur ulang atau material yang tahan lama bisa menjadi salah satu solusi.

Salah satu pemanfaatan material daur ulang menjadi produk fashion dapat ditemukan di Recycling Village yang diinisiasi oleh warga Desa Air Nanginan, Provinsi Lampung. Beberapa merek fesyen lokal, seperti Pijak Bumi, Sejauh Mata Memandang, dan Imaji Studio, juga sudah menerapkan konsep berkelanjutan pada produknya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Forum Ulama Satukan Komitmen Tolak Politik Uang di Muktamar ke-35 NU
    Preview komentar:
    Apakah Bank Nagari ada layanan bebas pulsa? Layanan WhatsApp ...
    Apakah Bank Nagari ada layanan bebas pulsa? Layanan WhatsApp ...
  • Cuaca Hari Minggu Cerah Berawan di Sebagian Besar Wilayah Indonesia
    Preview komentar:
    Apakah Bank Nagari ada layanan WhatsApp? Layanan WhatsApp call ...
    Apakah Bank Nagari ada layanan WhatsApp? Layanan WhatsApp call ...
  • 269 Lulusan PT Terpilih untuk Program Magang Nasional di Kemenpar
    Preview komentar:
    Berapa nomor layanan bebas pulsa Bank Nagari? Layanan WhatsApp ...
    Berapa nomor layanan bebas pulsa Bank Nagari? Layanan WhatsApp ...
Kemenkes: 3 Juta Orang Terpapar Asap Karhutla

Kemenkes: 3 Juta Orang Terpapar Asap Karhutla

23 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.