Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Demam ‘Thrifting’ di Kalangan Gen Z: Sekadar Tren atau Benar-benar Sadar Lingkungan?

📅 Sabtu, 03 Mei 2025, 13:15 WIB | Oleh: Tim Penulis
Demam ‘Thrifting’ di Kalangan Gen Z: Sekadar Tren atau Benar-benar Sadar Lingkungan? Doc: The Conversation

Puty Febriasari, Universitas Panca Bhakti; Anggraeni Pranandari, Universitas Gadjah Mada , dan Thea Geneveva Josephine Jesajas, Universitas Panca Bhakti

Pascapandemi COVID-19, tren thrifting (membeli pakaian bekas) semakin populer di kalangan Gen Z di Indonesia. Kaum muda memilih pakaian bekas bukan hanya karena harganya lebih terjangkau, tetapi juga karena alasan lingkungan dan gaya unik yang ditawarkan oleh produk second-hand.

Namun, apakah thrifting benar-benar mencerminkan kesadaran atas fesyen berkelanjutan, atau sekadar tren sesaat?

Sebagai peneliti di bidang perilaku konsumen, kami melakukan penelitian pada tahun 2024 terhadap 345 responden berusia 18-25 tahun dari berbagai kota besar di Indonesia, seperti Yogyakarta, Solo, Surabaya, dan Jakarta. Kami ingin memahami bagaimana Gen Z memandang dan mempraktikkan fesyen berkelanjutan.

Hasilnya, meskipun ada kesadaran lingkungan yang meningkat, faktor utama yang mendorong Gen Z untuk memilih thrifting masih berkaitan dengan harga dan tren.

Kesadaran lingkungan vs gaya hidup

Industri fesyen, terutama fast fashion, telah lama dikritik karena dampaknya terhadap lingkungan. Beberapa merek fashion global seperti H&M, Zara, dan Uniqlo bahkan diduga mengeksploitasi pekerja dan melakukan greenwashing—membuat pernyataan palsu yang menyesatkan tentang manfaat lingkungan dari suatu produk.

Untuk mengatasi persoalan limbah tekstil dan konsumsi berlebihan, thrifting sering dianggap sebagai solusi. Dengan membeli pakaian bekas, konsumen dapat memperpanjang umur pakaian dan mengurangi permintaan produksi baru.

Namun, penelitian kami menunjukkan bahwa tidak semua pembeli pakaian bekas benar-benar memahami dan memedulikan aspek keberlanjutan ini.

Sebagian besar kaum muda, khususnya Gen Z, membeli pakaian bekas bukan semata-mata karena peduli lingkungan, melainkan karena pertimbangan estetika—seperti mencari busana vintage—dan harga yang terjangkau.

Artinya, meskipun praktik ini berdampak positif terhadap keberlanjutan lingkungan, motivasi utamanya cenderung karena gaya hidup, bukan kesadaran ekologis.       

Gen Z dan fesyen berkelanjutan

Penelitian kami menunjukkan bahwa faktor-faktor seperti pengetahuan tentang dampak lingkungan, sikap terhadap isu keberlanjutan, serta norma sosial, turut membentuk perilaku berbelanja Gen Z.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Aksi Jual Saham AI AS Mengguncang Wall Street Gingga Asia

33 menit yang lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Luar Negeri
Aksi Jual Saham AI AS Mengg...
Daerah
Polda Jabar Tangkap Tersang...

Penataan Ruang Publik Menyambut HUT DKI Jakarta

43 menit yang lalu | Fajar Alim M

Megapolitan
Penataan Ruang Publik Menya...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.