Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Badai Petir Meningkatkan Serbuk Sari

📅 Selasa, 29 Apr 2025, 06:11 WIB | Oleh:

Ketika peneliti menanam jenis rumput tertentu di bawah kadar CO2 yang berbeda, misalnya, mereka menemukan bahwa tanaman yang tumbuh di atmosfer yang mengandung CO2 pada 800 bagian per juta (ppm) memiliki bunga yang menghasilkan sekitar 50 persen lebih banyak serbuk sari daripada tanaman yang tumbuh di udara yang mengandung 400 ppm. Yang terakhir ini meniru kadar CO2 saat ini di atmosfer Bumi.

Demikian pula, ilmuwan lain juga bereksperimen dengan menanam berbagai jenis pohon ek, yang serbuk sarinya sering menyebabkan demam serbuk sari di negara-negara seperti Korea Selatan. Dalam skenario CO2 720ppm, mereka menemukan bahwa setiap pohon ek memiliki jumlah serbuk sari rata-rata 13 kali lipat dari jumlah serbuk sari pohon dalam skenario 400 ppm. Bahkan pada 560ppm, produksi serbuk sari 3,5 kali lebih tinggi dari tingkat saat ini.

Ziska, yang menulis buku Greenhouse Planet tahun 2022, melakukan eksperimen serupa dengan ragweed. Hasilnya mencerminkan hasil penelitian peneliti lain. “Setiap kali kami meningkatkan karbon dioksida, tanaman ragweed merespons.

“Mereka tumbuh lebih banyak. Mereka menghasilkan lebih banyak serbuk sari,” katanya. “Dan ada beberapa bukti bahwa mereka menghasilkan bentuk serbuk sari yang lebih alergenik, yang dapat mendorong sistem kekebalan tubuh Anda untuk merespons bahkan lebih besar daripada sebelumnya,” ucapnya. hay

Suhu Hangat Produksi Produktivitas Ragweed

Penyebaran spesies invasif di bagian dunia yang baru juga memicu reaksi alergi pada populasi manusia baru. Meskipun berasal dari Amerika Utara, rumput liar jenis ragweed yang serbuk sarinya menyebabkan alergi, dan berbahaya bagi Kesehatan misalnya, telah menyebar ke seluruh Eropa, serta ke Australia, Asia, dan Amerika Selatan.

Saat ini, sekitar 60 persen orang di Hongaria, 20 persen di Denmark, dan 15 persen di Belanda dilaporkan sensitif terhadap serbuk sari dari kelompok tanaman yang produktif ini. Hal ini membuatnya sangat memprihatinkan karena, pada tahun 2050, konsentrasi serbuk sari ragweed di udara diperkirakan sekitar empat kali lipat dari saat ini.

Bahkan di beberapa bagian Eropa di mana serbuk sari ragweed hampir tidak ada saat ini, termasuk Inggris bagian selatan dan Jerman, “beban serbuk sari menjadi substansial” di bawah skenario iklim sedang atau tinggi, tulis para peneliti dalam sebuah studi tahun 2015.

Sekitar sepertiga dari peningkatan tersebut disebabkan oleh penyebaran spesies invasif yang berkelanjutan, para peneliti mencatat. Dua pertiga sisanya secara khusus disebabkan oleh perubahan iklim, termasuk perpanjangan musim tanam saat suhu menghangat.

“Jadi, musimnya akan lebih awal, lebih panjang, dan juga lebih intens bagi mereka yang mengalami gejala alergi dan kemudian risiko sensitisasi baru yang lebih tinggi bagi populasi yang sebelumnya tidak terpapar,” jelas Elaine Fuertes, seorang ilmuwan kesehatan masyarakat yang berfokus pada lingkungan dan penyakit alergi di National Heart and Lung Institute, Imperial College, Inggris.

Tidak semua wilayah di dunia akan mengalami lebih banyak produksi serbuk sari. Beberapa peneliti telah menemukan bahwa California selatan, misalnya, akan mengalami musim serbuk sari yang lebih awal tetapi kurang produktif, sebagian besar sebagai akibat dari berkurangnya curah hujan.

Namun, prediksi ini tidak memperhitungkan semua potensi dampak perubahan iklim terhadap alergen di udara. Mungkin juga ada dampak kesehatan dari kemungkinan kebakaran hutan yang meningkat, misalnya, karena hal ini meningkatkan risiko asma dan gejala alergi.

Solusi lainnya terletak pada desain perkotaan yang lebih cerdas. “Kita tentu harus menghijaukan kota kita,” kata Fuertes. “Namun, kita perlu melakukannya dengan seksama,” ujarnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Keren, Unika Atma Jaya Masuk Top 100 Dunia WURI 2026

1.5 jam yang lalu | Mohammad Zaki Alatas

Nasional
Keren, Unika Atma Jaya Masu...
Daerah
BPJS Kesehatan Edukasi Pold...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.