Pramono Ingin Perkuat Budaya Betawi
📅 Sabtu, 26 Apr 2025, 14:56 WIB | Oleh: Ilham Sudrajat
Doc: Nugroho Sejati
JAKARTA - Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, pada Sabtu (26/4) menghadiri acara Lebaran Betawi di Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat.
Dalam sambutannya, Pramono menekankan pentingnya perayaan Lebaran Betawi yang semarak tidak hanya di tingkat provinsi, tetapi juga di tingkat kota dan kabupaten, termasuk di Kepulauan Seribu.
Dengan demikian, budaya Betawi tetap terjaga di masyarakat. Pramono mengatakan, acara ini merupakan bentuk kehormatan terhadap budaya Betawi.
"Saya ingin Lebaran Betawi tidak hanya diadakan di Monas pada tingkat provinsi. Tetapi harus diadakan di kota-kota dan Kabupaten Kepulauan Seribu. Di Kota dan Kabupaten Kepulauan Seribu dilakukan dengan semarak yang memberi hantaran atau serah-serahan dari camat masing-masing," kata Gubernur Pramono.
Pramono juga menyoroti pentingnya pengakuan budaya Betawi sebagai budaya utama Jakarta, sesuai dengan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 tentang Daerah Khusus Jakarta. Ia mengatakan, penguatan terhadap warisan budaya Betawi harus terus diupayakan, salah satunya dengan mengenalkan sosok para pahlawan Betawi yang telah berjasa bagi masyarakat Jakarta, seperti Mohammad Husni Thamrin.
Sebaiknya Anda baca juga:
Karena itu, Pramono ingin menempatkan patung MH Thamrin tepat di Jalan MH Thamrin dan menjadikannya sebagai simbol Kota Jakarta. Menurutnya, upaya ini menjadi salah satu bentuk penghormatan kepada tokoh utama Betawi.
"Saya minta izin keluarga Mbak Dini dan keluarga MH Thamrin, nanti dalam waktu dekat akan kami bangun, bukan dipindahkan. Akan kami bangun patung MH Thamrin yang representatif. Dan saya tahu bahwa MH Thamrin ini adalah pemikir orang Betawi," ujar dia.
Selain itu, Pramono mengusulkan pemberian penghargaan Benyamin Sueb Award baik kepada kecamatan dan lurah yang berprestasi dan berkontribusi positif bagi lingkungan mereka.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Ini bagian kita memberikan penghargaan kepada tokoh-tokoh utama Betawi," kata dia.
Dalam kesempatan ini, Pramono juga menyinggung soal Perda mengenai Masyarakat Adat Betawi. Ia meminta agar aturan tersebut bisa segera diselesaikan.
"Ketika saya mendapatkan laporan bahwa sampai hari ini progresnya belum seperti yang diharapkan. Saya bilang, 'gimana ini? Wakil Gubernurnya, Betawi. Sekdanya, Betawi. Ketua DPRD-nya, Betawi. Udahlah, kalau memang ini tidak segera diselesaikan, saya akan ambil alih sendiri, dan saya akan selesaikan," ucap dia.
Lebih lanjut, Pramono juga menyampaikan targetnya untuk menjadikan Jakarta sebagai kota global. Karena itu, ia menekankan perlunya perbaikan dan peningkatan kualitas kota sehingga Jakarta bisa masuk dalam daftar 50 kota besar dunia.
Selain itu, ia juga ingin menggabungkan tiga taman di sekitar gedung Asean yakni Taman Langsat, Ayodya, dan Leuser menjadi ruang publik yang representatif. Sehingga meskipun nantinya tidak lagi menjadi ibu kota negara, namun Jakarta masih memiliki identitas yakni sebagai ibu kota Asean.
"Jakarta, kalau tidak sebagai ibu kota negara Republik Indonesia, Jakarta harus punya simbol. Jakarta harus punya identitas. Identitas yang tidak bisa berubah, kecuali nanti suatu hari diubah, adalah Jakarta sebagai ibu kota Asean. Karena gedung Asean ada di Jakarta," ucap dia.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!