“Ora Sengketa Ora Enak”, Potret Dinamika Pilgub Jateng 2024 Diluncurkan dalam Buku Reflektif KPU-PWI
📅 Minggu, 20 Apr 2025, 15:00 WIB | Oleh: Henri pelupessy
Doc: koran jakarta/henri pelupessy
SEMARANG — Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Tengah (Jateng) menggandeng Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jateng meluncurkan buku reflektif berjudul “Ora Sengketa Ora Enak – Potret Pertarungan Menuju Jateng-1”.
Buku ini menggambarkan dinamika Pilkada 2024 di Jawa Tengah, khususnya Pilgub yang mencatat sejarah dengan munculnya sengketa di Mahkamah Konstitusi (MK).
Peluncuran dan bedah buku ini berlangsung Jumat (18/4) di kawasan Kota Lama, Kota Semarang Jawa Tengah. Acara ini dibuka langsung Ketua KPU Jateng Handi Tri Ujiono dan Ketua PWI Jateng Amir Machmud NS selaku editor buku, serta dihadiri sejumlah tokoh penting dari KPU dan PWI Jateng.
Hadir dalam acara tersebut, antara lain Komisioner KPU Jateng Muslim Aisha (Divisi Hukum dan Pengawasan), Mey Nurlela (Divisi SDM, Penelitian dan Pengembangan), Kabag TPP Parhumas KPU Dewantoputra Adhipermana, Ketua Mapilu PWI Sugayo Jawama bersama jajarannya, serta sejumlah wartawan senior dan anggota tim penulis dari PWI Jateng.
Ketua KPU Jateng Handi Tri Ujiono menjelaskan, buku setebal 178 halaman ini menjadi refleksi dari perjalanan Pilgub Jateng 2024 yang penuh dinamika.
Sebaiknya Anda baca juga:
Meski berlangsung aman dan partisipatif, munculnya gugatan salah satu pasangan calon ke MK menjadikan Pilgub kali ini bersejarah.
“Ini pertama kalinya Pilgub Jateng mengalami sengketa sejak pemilihan langsung dimulai pada 2008. Meski akhirnya gugatan dicabut, justru inilah momen berharga yang memperkaya pengalaman KPU dalam menangani potensi konflik,” ujarnya.
Ia menambahkan, pergeseran episentrum Pilkada dari DKI Jakarta ke Jawa Tengah pada 2024 turut memberi warna tersendiri, mengingat kontestasi mempertemukan figur-figur jenderal yang disebut sebagai perang bintang oleh publik dan media.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sesi bedah buku yang dipandu Sekretaris Mapilu PWI M Chamim Rifai menghadirkan perspektif dari tim penulis dan penyusun. Muslim Aisha sebagai salah satu penulis menyebut, momen klimaks Pilgub justru terjadi saat gugatan ke MK dicabut oleh pemohon.
“Begitu gugatan dicabut, semua pihak seperti mendapatkan kelegaan—baik pemohon, termohon, maupun KPU. Dari sinilah kita belajar bahwa sengketa, meski tak diharapkan, bisa menjadi alat untuk menyempurnakan sistem dan kinerja kami,” ungkap Muslim.
Sementara itu, Amir Machmud NS menyampaikan tantangan dalam menyusun buku ini yang disebutnya seperti misi Bandung Bondowoso karena harus selesai dalam waktu kurang dari satu bulan.
Meski demikian, ia menyebut buku ini bukan hanya dokumentasi, tapi juga referensi dan bahan pembelajaran, terutama bagi generasi muda dan penyelenggara pemilu.
“Buku ini disusun dengan gaya ringan namun padat substansi. Kami ingin karya ini juga menjadi bacaan bermutu di ruang-ruang kuliah dan referensi untuk pemilih pemula,” kata Amir yang sudah menerbitkan 26 buku sebelumnya.
KPU dan DKPP
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!